\n
mesin bisa mengaudit tetapi siapa yang bertanggung jawab cpa days 2026 beri solusi ini index
mesin bisa mengaudit tetapi siapa yang bertanggung jawab cpa days 2026 beri solusi ini index

AI Ubah Profesi Akuntan Publik, BINUS dan IAPI Tekankan Pentingnya Penilaian Manusia

TANGERANG — Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) semakin mampu menganalisis ribuan transaksi dan mengidentifikasi pola yang tidak biasa dalam hitungan detik. Namun, teknologi belum dapat menggantikan tanggung jawab manusia dalam menilai hasil analisis dan mengambil keputusan profesional.

Persoalan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam CPA Days 2026, yang diselenggarakan oleh School of Accounting BINUS University bersama Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) pada 8–10 Oktober 2026 di BINUS @Alam Sutera, Tangerang.

Acara ini bertepatan dengan peringatan 30 tahun Program Studi Accounting BINUS University dan mengusung tema Catalysts of Tomorrow: Transforming Assurance Through Intelligence.

CPA Days 2026 mempertemukan mahasiswa, akademisi, praktisi, pemimpin dunia usaha, dan regulator untuk membahas perkembangan profesi akuntan publik di tengah transformasi digital. Salah satu fokus pembahasannya adalah pemanfaatan AI dan analitik data dalam praktik assurance, yaitu proses pemeriksaan yang bertujuan memberikan keyakinan atas informasi keuangan maupun informasi lainnya.

Acara tersebut dibuka oleh Rektor BINUS University Nelly bersama Presiden IAPI Tarkosunaryo. Turut hadir Direktur Pengembangan dan Pengawasan Profesi Keuangan Erawati serta Presiden International Federation of Accountants (IFAC) Jean Bouquot.

AI Mempercepat Analisis, Manusia Tetap Bertanggung Jawab

Dalam sambutannya, Nelly menyoroti peran teknologi dalam membantu profesional menganalisis informasi dan mengidentifikasi risiko secara lebih cepat.

Meski demikian, pemanfaatan teknologi tetap membutuhkan pengawasan dan pertimbangan manusia.

Menurut Nelly, keputusan mengenai bagaimana teknologi digunakan dan bagaimana hasilnya ditafsirkan tetap menjadi tanggung jawab manusia.

Pandangan tersebut menjadi penting seiring meningkatnya penggunaan AI dalam pekerjaan akuntansi dan audit. Teknologi dapat membantu memproses data dalam jumlah besar, mendeteksi anomali transaksi, serta menunjukkan indikasi risiko yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Namun, temuan yang dihasilkan sistem tidak serta-merta menjadi kesimpulan akhir. Auditor tetap perlu mengevaluasi bukti, mempertimbangkan konteks bisnis, menguji kewajaran hasil analisis, dan memastikan bahwa kesimpulan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, penggunaan AI bukan hanya persoalan efisiensi kerja, tetapi juga berkaitan dengan kualitas pemeriksaan, etika profesi, dan kepercayaan publik.

Human Judgment Menjadi Kunci dalam Era AI

Dua forum yang menjadi sorotan dalam kegiatan ini adalah Assurance in the Digital Era: Preparing Auditors for Emerging Business and Regulatory Challenges serta Human Judgment in the Age of AI: Shaping the Future of Assurance with Ethics and Trust.

Kedua forum tersebut mengangkat tantangan yang dihadapi auditor dalam menghadapi perubahan teknologi dan regulasi, termasuk pentingnya menjaga kualitas penilaian profesional ketika sebagian proses analisis mulai diotomatisasi.

Kemampuan AI dalam menemukan pola tidak biasa dapat membantu auditor menentukan area yang memerlukan perhatian lebih besar. Akan tetapi, auditor tetap harus menilai apakah pola tersebut benar-benar menunjukkan risiko atau justru merupakan kondisi bisnis yang wajar.

Di sinilah professional judgment atau pertimbangan profesional berperan penting. Auditor perlu memahami bukti yang tersedia, menguji asumsi, mempertanyakan hasil yang meragukan, dan mengambil keputusan berdasarkan standar serta prinsip etika profesi.

Kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika teknologi digunakan dalam proses yang berdampak terhadap laporan keuangan, tata kelola perusahaan, dan kepercayaan para pemangku kepentingan.

Kolaborasi Pendidikan dan Industri untuk Menyiapkan Talenta

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, International CPA Days Conference 2026 turut membahas berbagai bidang yang berkaitan dengan perkembangan profesi akuntansi.

Topiknya mencakup Auditing & Assurance, Corporate Governance, Corporate Reporting, Finance, Taxation, Sustainability and Managerial Accounting, Accounting Information System, hingga Accounting Education.

Presiden IAPI Tarkosunaryo menekankan pentingnya kolaborasi antara profesi akuntan publik dan institusi pendidikan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi perubahan.

Menurutnya, transformasi profesi akuntan publik tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk mengadopsi teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia yang memiliki integritas, kompetensi, dan pertimbangan profesional yang kuat.

Pandangan serupa disampaikan Dekan School of Accounting BINUS University Rindang Widuri. Ia menilai bahwa talenta akuntansi saat ini tidak cukup hanya mengandalkan ketelitian dan pemahaman terhadap standar akuntansi.

Calon profesional juga perlu memiliki kemampuan mengolah data, memahami teknologi, serta memanfaatkan AI tanpa mengabaikan integritas dan tanggung jawab profesional.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan akuntansi perlu terus beradaptasi dengan perubahan kebutuhan industri. Selain menguasai dasar-dasar akuntansi, mahasiswa perlu mempersiapkan diri untuk bekerja dengan perangkat analitik, memahami keterbatasan teknologi, dan mengevaluasi hasil yang dihasilkan sistem berbasis AI.

Kompetensi Akuntan Bergeser dari Perhitungan ke Penilaian

Perkembangan AI berpotensi mengubah pembagian pekerjaan dalam profesi akuntansi dan audit. Sejumlah aktivitas rutin, seperti pencocokan data, pengelompokan transaksi, dan identifikasi anomali, dapat dibantu oleh sistem otomatis.

Perubahan tersebut tidak berarti peran akuntan menjadi tidak relevan. Sebaliknya, kebutuhan terhadap profesional yang mampu memahami konteks, mengevaluasi bukti, dan membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan tetap menjadi bagian penting dari pekerjaan tersebut.

Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa penggunaan teknologi tidak mengurangi kualitas pemeriksaan. Auditor perlu memahami bagaimana sistem menghasilkan analisis, mengenali kemungkinan kesalahan, serta menjaga kerahasiaan dan keamanan data yang digunakan.

Bagi institusi pendidikan dan dunia usaha, kondisi ini menjadi alasan untuk memperkuat kompetensi digital sekaligus mempertahankan fondasi etika profesi.

Pada akhirnya, transformasi digital menuntut perubahan dalam cara kompetensi profesional dinilai. Kecepatan memproses data memang penting, tetapi tidak cukup untuk menjamin kualitas sebuah keputusan.

Di era AI, nilai seorang akuntan publik tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya mengolah data, tetapi juga oleh ketepatannya menilai hasil analisis, keberaniannya mempertanyakan kesimpulan yang meragukan, dan kesediaannya bertanggung jawab atas keputusan profesional yang diambil.

About applegeekz

<

Check Also

Screenshot 2026 10 09 at 06.08.58

Detektor AI SynthID Google Kini Tersedia untuk Semua Orang

Dunia digital kembali mencatat perkembangan penting dalam upaya memisahkan konten asli dari konten buatan mesin. …