Podcast atau siniar telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian banyak orang. Mulai dari menemani perjalanan ke kantor, sesi olahraga, mengerjakan tugas rumah, hingga waktu bersantai, podcast menawarkan beragam topik yang tak ada habisnya. Mulai dari komedi, cerita horor, hubungan asmara, kesehatan mental, bisnis, teknologi, olahraga, politik, budaya pop, hingga kisah inspiratif sehari-hari. Menariknya, podcast yang awalnya hanya berbasis audio kini juga hadir dalam format video, memungkinkan penonton melihat ekspresi, gestur, dan suasana studio. Fleksibilitas inilah yang membuat podcast semakin digemari. Lalu, bagaimana sebenarnya sejarah podcast dimulai?
Daftar Isi
Akar Podcast: Internet dan Teknologi RSS
Podcast tidak muncul begitu saja seiring popularitas Spotify, YouTube, atau platform streaming lainnya. Jejaknya dapat ditelusuri sejak awal 2000-an, ketika para pengembang internet mulai bereksperimen dengan teknologi RSS (Really Simple Syndication). RSS awalnya digunakan untuk mendistribusikan pembaruan tulisan dari situs dan blog. Pengembang perangkat lunak Dave Winer kemudian mengembangkan RSS agar mampu membawa berkas audio. Sementara itu, mantan pembawa acara MTV, Adam Curry, turut mengembangkan metode agar berkas audio tersebut dapat diunduh secara otomatis dan dipindahkan ke perangkat pemutar musik seperti iPod. Dari sinilah konsep yang kemudian dikenal sebagai podcast mulai terbentuk.
Pada Februari 2004, istilah “podcasting” pertama kali digunakan oleh jurnalis Ben Hammersley dalam artikelnya di The Guardian. Istilah ini merujuk pada fenomena distribusi audio melalui internet yang tengah berkembang. Nama “podcast” sendiri sering dikaitkan dengan gabungan kata “iPod” dan “broadcasting”. Namun, seiring waktu, podcast tidak lagi bergantung pada perangkat iPod. Pada 2005, Apple memasukkan podcast ke dalam iTunes, langkah yang membantu podcast menjangkau lebih banyak pengguna karena orang dapat mencari, berlangganan, dan mengunduh berbagai program dari satu tempat. Setelah itu, perkembangan internet, smartphone, dan layanan streaming seperti Spotify membuat podcast semakin mudah diakses. Pendengar tidak perlu mengunduh file secara manual atau memiliki pemutar MP3 khusus; cukup membuka aplikasi di ponsel, mencari program yang diinginkan, lalu menekan tombol putar. Perubahan sederhana ini membuat podcast jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Perkembangan Podcast di Indonesia
Di Indonesia, perkembangan podcast berjalan seiring dengan meningkatnya penggunaan internet, smartphone, dan media sosial. Podcast tidak lagi hanya menjadi ruang bagi perusahaan media, tetapi juga kreator individu, komedian, musisi, jurnalis, influencer, hingga komunitas. Model ini membuat pilihan konten menjadi sangat beragam. Salah satu contohnya adalah PODKESMAS, yang menggabungkan obrolan komedi dengan berbagai cerita dan topik keseharian. Di Spotify, program ini juga berkembang dalam format video melalui sejumlah episodenya.
Ada pula Rintik Sedu, yang dikenal dengan konten bernuansa cerita, hubungan, perasaan, dan refleksi kehidupan. Beberapa episode Rintik Sedu di Spotify juga sudah hadir dalam format video. Sementara itu, AGAK LAEN! membawa karakter komedi khas Batak ke dalam format podcast. Topiknya sering mengambil hal-hal sederhana dari kehidupan sehari-hari dan mengembangkannya menjadi obrolan yang menghibur. Program tersebut telah memiliki episode sejak 2021 dan terus berkembang dalam beberapa musim.
Contoh lain adalah Thirty Days of Lunch, yang banyak mengangkat cerita mengenai bisnis, karier, kehidupan profesional, serta pengalaman orang-orang dari berbagai latar belakang. Program ini juga berkembang ke format video di Spotify. Untuk obrolan panjang bersama berbagai tokoh, Deddy Corbuzier juga memiliki podcast yang tersedia di Spotify. Nama-nama tersebut tentu hanya sebagian dari banyaknya podcast yang berkembang di Indonesia. Setiap program memiliki gaya, pembawa acara, serta kelompok pendengar sendiri.
Dari Obrolan Santai hingga Konten Khusus
Salah satu alasan podcast mudah menemukan peminat adalah sifatnya yang sangat fleksibel. Pendengar tidak harus menyukai semua podcast. Mereka bisa memilih satu program khusus sesuai kebutuhannya. Ada orang yang menikmati podcast komedi untuk menemani perjalanan. Ada yang memilih podcast bisnis untuk mendapatkan wawasan. Ada pula yang lebih senang mendengarkan cerita horor sebelum tidur atau mengikuti obrolan mengenai hubungan dan kehidupan sehari-hari.
Model seperti ini disebut Spotify sebagai salah satu kekuatan podcast, karena banyaknya pilihan memungkinkan pendengar menemukan konten yang sesuai dengan minat yang sangat spesifik. Spotify mencatat lebih dari 6 juta podcast tersedia di platformnya pada 2024. Di Indonesia sendiri, Spotify juga pernah mencatat pola konsumsi podcast berdasarkan momen tertentu. Saat Ramadan 2024, misalnya, podcast bertema agama dan spiritualitas menjadi genre podcast yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia pada periode tersebut. Hal tersebut menunjukkan bagaimana podcast dapat mengikuti kebutuhan dan kebiasaan pendengarnya.
Podcast Tidak Cuma untuk Didengar
Perubahan paling menarik dalam beberapa tahun terakhir adalah munculnya podcast video. Podcast pada awalnya sangat identik dengan audio. Namun, perkembangan platform digital membuat batas antara podcast, video, dan konten media sosial semakin tipis. Spotify mencatat konsumsi video podcast meningkat 88 persen dalam satu tahun hingga 2024. Pada saat itu, lebih dari 300 ribu podcast video tersedia di Spotify. Jumlah ini belum termasuk podcast video yang hanya ada di YouTube. Spotify juga menyebut lebih dari 250 juta pengguna telah menonton podcast di platformnya.
Artinya, podcast sekarang tidak selalu harus dipahami sebagai “acara radio di internet”. Sebuah podcast bisa berupa percakapan panjang dengan dua orang di studio, wawancara dengan narasumber, monolog seorang kreator, dokumenter audio, cerita bersambung, hingga tayangan video yang kemudian dipotong menjadi klip pendek untuk media sosial. Formatnya semakin cair.
Podcast di Kancah Global
Perkembangan podcast tentu tidak hanya terjadi di Indonesia. Di tingkat global, ada sejumlah program yang sudah menjadi bagian penting dari perkembangan industri podcast. Salah satu contohnya adalah The Joe Rogan Experience, yang pertama kali hadir pada 2009 dan kemudian menjadi podcast eksklusif Spotify pada 2020. Spotify mencatat The Joe Rogan Experience menjadi podcast teratas secara global di Spotify Wrapped selama beberapa tahun, termasuk pada 2025 ketika program tersebut kembali berada di posisi pertama daftar podcast global Spotify.
Selain itu ada The Diary of a CEO with Steven Bartlett, The Mel Robbins Podcast, Call Her Daddy, hingga This Past Weekend with Theo Von yang juga masuk dalam daftar podcast teratas Spotify secara global pada 2025. Topiknya pun berbeda-beda. Ada yang fokus pada wawancara panjang, pengembangan diri, budaya pop, komedi, hingga pengalaman hidup. Ini menunjukkan bahwa podcast tidak memiliki satu formula yang berlaku untuk semua orang.
Kenapa Podcast Semakin Diminati?
Salah satu jawabannya adalah fleksibilitas. Podcast bisa didengarkan sambil melakukan aktivitas lain. Berbeda dengan tayangan televisi atau video yang umumnya membutuhkan perhatian visual, podcast audio memungkinkan seseorang tetap mengikuti pembahasan ketika sedang berjalan, berkendara, memasak, atau bekerja. Di sisi lain, podcast video memberikan pilihan bagi mereka yang ingin melihat langsung interaksi para pembawa acara dan narasumber.
Platform seperti Spotify juga membuat proses menemukan podcast semakin mudah. Spotify menyediakan peringkat podcast berdasarkan negara dan kategori, termasuk daftar podcast teratas dan podcast yang sedang mengalami pertumbuhan popularitas. Peringkat tersebut diperbarui setiap hari. Pada akhirnya, kekuatan podcast mungkin justru terletak pada kebebasan memilih. Tidak semua orang harus mendengarkan podcast yang sama. Ada ruang untuk program dengan jutaan pendengar sekaligus ada ruang untuk podcast dengan topik yang sangat spesifik dan memiliki komunitas kecil tetapi loyal.
Dari teknologi RSS dan eksperimen para pengembang internet pada awal 2000-an, podcast kini berkembang menjadi ekosistem media yang jauh lebih besar. Audio tetap menjadi fondasinya, tetapi video, media sosial, komunitas, dan berbagai bentuk distribusi digital membuat podcast terus berubah. Dan di Indonesia, perubahan tersebut terlihat dari semakin banyaknya pilihan program dengan karakter yang berbeda-beda.
Apple Technos Berita Apple Terbaru, Rumor & Update Resmi