\n
nekat bakar uang rp404 triliun blunder fatal schneider electric bikin sahamnya hancur lebur index
nekat bakar uang rp404 triliun blunder fatal schneider electric bikin sahamnya hancur lebur index

Nekat Bakar Uang Rp404 Triliun, Blunder Fatal Schneider Electric Bikin Sahamnya Hancur Lebur!

Langkah Kontroversial Schneider Electric

Schneider Electric, raksasa teknologi energi asal Prancis, baru-baru ini mengumumkan akuisisi terbesar dalam sejarah perusahaannya. Mereka setuju membeli PTC, perusahaan perangkat lunak desain industri yang berbasis di Boston, Amerika Serikat, dengan nilai transaksi mencapai USD22,6 miliar atau setara Rp404,5 triliun. Namun, alih-alih disambut positif, pasar justru merespons negatif. Saham Schneider Electric langsung anjlok lebih dari 9 persen di Bursa Paris pada Senin (5/10/2026).

Detail Transaksi dan Premi Tinggi

Schneider akan membayar tunai USD205 per saham untuk seluruh saham PTC. Jika termasuk utang, total nilai transaksi mencapai USD23,7 miliar atau sekitar Rp424,2 triliun. Harga penawaran ini mengandung premi 42,3 persen dari harga penutupan terakhir saham PTC. Dewan direksi PTC sendiri telah menyetujui tawaran tersebut.

Premi yang tinggi inilah yang menjadi sorotan utama. Dengan harga penutupan sekitar USD144 per saham, Schneider membayar sekitar USD61 lebih per saham. Total premi yang dibayarkan ditaksir mencapai USD6,7 miliar atau sekitar Rp120 triliun. Angka ini dianggap terlalu mahal oleh para investor, terutama mengingat kondisi pasar yang sedang tidak menentu.

Kekhawatiran Pasar terhadap Valuasi dan AI

Waktu akuisisi juga dipertanyakan. Pasar sedang dilanda kekhawatiran bahwa kecerdasan artifisial (AI) akan menggerus model bisnis perusahaan perangkat lunak karena menawarkan alternatif yang lebih murah. Menurut MarketWatch, valuasi PTC tahun ini sempat turun hingga 13,1 kali laba 12 bulan ke depan. Analis Jefferies menilai kekhawatiran tersebut membuat Schneider bisa membeli PTC pada valuasi terendah dalam satu dekade. Namun, kekhawatiran yang sama berpotensi terus membebani saham Schneider. Artinya, harga murah tersebut ada penyebabnya.

Beban Pembiayaan dan Dilusi Saham

Tekanan semakin berat dengan rencana pembiayaan akuisisi. Schneider berencana menerbitkan utang hingga 17 miliar euro (sekitar Rp342 triliun) dan saham baru hingga 6 miliar euro (sekitar Rp120,7 triliun). Langkah ini jelas akan mendilusi kepemilikan pemegang saham lama. Selain itu, program pembelian kembali saham akan dihentikan pada 2027 dan 2028, lalu dipercepat agar program senilai 2,5 miliar hingga 3,5 miliar euro (Rp50,3 triliun hingga Rp70,4 triliun) tuntas akhir 2030.

Janji Penghematan yang Dipertanyakan

Sebagai imbalan, Schneider menjanjikan penghematan biaya sebesar 250 juta euro (Rp5 triliun) per tahun mulai tahun ketiga setelah transaksi rampung, ditambah sekitar 800 juta euro (Rp16,1 triliun) pendapatan baru. Namun, hitungan kasarnya menunjukkan penghematan tersebut hanya sekitar 1,2 persen dari nilai transaksi. Untuk menutup premi saja dari penghematan biaya, dibutuhkan waktu sekitar 24 tahun. Angka ini tentu membuat investor semakin ragu.

Optimisme Manajemen di Tengah Keraguan

Meskipun pasar merespons negatif, manajemen kedua perusahaan tetap optimistis. CEO Schneider Electric, Olivier Blum, menyebut akuisisi ini sebagai langkah penting menuju era kecerdasan energi dan industri, sekaligus menciptakan kekuatan perangkat lunak dan AI paling lengkap di industri. Sementara itu, CEO PTC, Neil Barua, mengatakan bahwa perusahaannya akan memperoleh skala dan sumber daya untuk mempercepat inovasi serta memperluas pasar ke lebih banyak wilayah.

PTC sendiri memiliki lebih dari 7.000 karyawan dan melayani lebih dari 30.000 pelanggan. Sekitar separuh pendapatannya pada tahun fiskal 2025 berasal dari kawasan Amerika. Transaksi ini ditargetkan rampung pada kuartal III-2027, setelah mendapat persetujuan mayoritas pemegang saham PTC dan regulator.

Ketidakpastian Hingga 2027

Artinya, akan ada hampir dua tahun ketidakpastian. Kondisi ini buruk bagi investor. Mereka kini bertanya-tanya, apakah Schneider membayar terlalu mahal untuk masa depan yang belum pasti. Jawabannya sudah terlihat jelas di hari pertama pengumuman: saham langsung jeblok. Blunder fatal ini menjadi pelajaran berharga bahwa akuisisi besar tanpa perhitungan matang bisa berbalik menjadi bencana bagi nilai perusahaan.

About applegeekz

<

Check Also

MacBook Air M5 Resmi Hadir: Apa Saja Keunggulan Laptop Terbaru Apple untuk Produktivitas dan Kreativitas?

Apple kembali menarik perhatian dunia teknologi dengan menghadirkan generasi terbaru laptop andalannya, yaitu MacBook Air …