JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin pesat, dan salah satu inovasi yang paling berdampak adalah AI agent. Perusahaan-perusahaan di seluruh dunia kini berlomba mengembangkan AI agent untuk mengotomatisasi pekerjaan, mempercepat pengambilan keputusan, dan meningkatkan produktivitas. Menurut proyeksi IDC, sebuah lembaga riset pasar global, pada tahun 2028 akan ada sekitar 1,3 miliar AI agent di seluruh dunia. Angka ini menunjukkan betapa masifnya adopsi teknologi tersebut. Lebih lanjut, IDC memperkirakan bahwa pada 2030, sekitar 45% perusahaan akan mengorkestrasi AI agent dalam skala besar. Ini menandakan bahwa AI agent bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan strategis untuk tetap kompetitif.
Daftar Isi
Tantangan dalam Mengadopsi AI Agent
Meskipun potensinya besar, banyak perusahaan yang terjebak dalam pengembangan AI agent tanpa menghasilkan nilai bisnis yang signifikan. Ada beberapa penyebab utama. Pertama, agent sering dibangun menggunakan berbagai tools yang berbeda, sehingga sulit diintegrasikan. Kedua, data yang digunakan masih terpisah-pisah (data silo), menghambat aliran informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan yang akurat. Ketiga, masih terdapat celah keamanan yang membuat perusahaan ragu untuk mengimplementasikan AI agent secara luas. Akibatnya, banyak proyek AI agent yang berhenti pada tahap awal atau prototipe.
Director Business Development & Innovation PT Multipolar Technology Tbk, Halim Hartono Perdana, menekankan bahwa tantangan utama bukan lagi sekadar memiliki AI agent, melainkan bagaimana menghubungkan berbagai agen yang ada agar menjadi bagian dari proses bisnis. “Perusahaan tidak cukup hanya memiliki banyak AI agent. Yang lebih penting adalah memastikan agent-agent tersebut memahami konteks bisnis, terhubung dengan data dan alur kerja yang tepat, serta menghasilkan output yang benar-benar mendukung tujuan bisnis. Di sinilah transformasi AI mulai bergeser dari sekadar penggunaan teknologi menjadi perubahan cara perusahaan bekerja,” ujarnya dalam seminar bertema “The Next Frontier of Enterprise Intelligence: Unlocking Business Value with Autonomous AI” yang diselenggarakan Multipolar Technology dan Microsoft Indonesia di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Tiga Tantangan Utama
Setidaknya ada tiga tantangan utama yang muncul ketika perusahaan mulai memperluas penggunaan AI agent. Pertama, konteks bisnis. Agent membutuhkan akses dan pemahaman terhadap dokumen, percakapan, alur kerja, dan berbagai informasi agar dapat menghasilkan respons dan tindakan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis. Kedua, aspek security dan governance. Semakin banyak agent digunakan, semakin besar pula kebutuhan perusahaan akan visibility, control, dan safeguards, serta mekanisme tata kelola yang konsisten. Ketiga, delivery ke lingkungan produksi. AI memang mempercepat pembuatan code, tetapi belum tentu mempercepat delivery, karena proses review, testing, governance, dan validasi keamanannya tetap harus dilakukan.
Solusi Terintegrasi dari Microsoft
Untuk menjawab tantangan tersebut, Microsoft menyediakan satu sistem untuk membangun AI agent yang kompatibel bagi perusahaan. Sistem ini mencakup enam fungsi yang saling terhubung: Build menggunakan GitHub dan Copilot Studio, Contextualize melalui Microsoft IQ, Run dan Optimize menggunakan Microsoft Foundry, Govern melalui Agent 365, serta Surface melalui Microsoft Teams dan Microsoft 365. Pendekatan terintegrasi ini dirancang agar agent tidak menjadi tools yang berdiri sendiri, melainkan dapat dibangun, dijalankan, dikelola, dan digunakan dalam satu ekosistem.
“Ketika berbagai kemampuan ini terhubung, perusahaan dapat membangun agent dengan lebih mudah, memberikan konteks bisnis yang tepat, menerapkan governance dan security yang konsisten, serta membawa agent ke tempat karyawan bekerja sehari-hari. Dengan begitu, AI agent memiliki peluang lebih besar untuk bergerak dari prototipe menuju produksi dan memberikan dampak yang terukur,” jelas Halim.
Tiga Manfaat Utama bagi Bisnis
Melalui pendekatan satu sistem tersebut, ada tiga hasil utama yang dapat dicapai. Pertama, Build at the Speed of AI, yaitu memberikan kemampuan kepada setiap departemen bisnis untuk mengubah ide menjadi agent yang siap pakai. Kedua, Agents that Deliver Business Impact, yakni memastikan agent memiliki konteks bisnis, dapat dioptimalkan dan diskalakan untuk menghasilkan outcome yang optimal. Ketiga, Secure Every Agent from Code to Runtime, memastikan setiap agent dapat diobservasi, diatur, dan diamankan sejak tahap pengembangan hingga berjalan di lini produksi.
Dalam penerapannya, keamanan dan tata kelola tidak seharusnya menjadi pemeriksaan yang hanya dilakukan di akhir. Pendekatan Microsoft menempatkan Observe, Govern, dan Secure di sepanjang lifecycle AI agent. Observe memberikan visibilitas terhadap penggunaan dan perilaku agent. Govern menetapkan aturan serta batasan yang harus dipatuhi, sedangkan Secure melindungi identitas, akses, data, dan agent dari berbagai risiko. Ketiganya membentuk siklus berkelanjutan yang memungkinkan perusahaan memperluas penggunaan AI agent tanpa kehilangan kendali.
Keberhasilan AI Diukur dari Dampak Bisnis
Menurut Halim, keberhasilan AI bukan diukur dari seberapa banyak agent yang dimiliki perusahaan, melainkan dari seberapa besar agent tersebut mampu membantu bisnis bekerja menjadi lebih baik. Agent harus memahami bisnis, terhubung dengan proses bisnis nyata, memberikan hasil yang dapat diukur, sekaligus tetap aman dan terkontrol. Dengan fondasi semacam ini, AI dapat berkembang dari sekadar alat bantu menjadi bagian dari cara bisnis berjalan.
“Apabila ingin menerapkannya, tim ahli Multipolar Technology siap membantu,” tuturnya. Dengan demikian, perusahaan yang mampu mengintegrasikan AI agent secara efektif akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan di masa depan. Transformasi ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang perubahan budaya kerja dan strategi bisnis secara menyeluruh.
Apple Technos Berita Apple Terbaru, Rumor & Update Resmi