JAKARTA — Kontroversi kembali mencuat seiring munculnya laporan mengenai model kecerdasan buatan (AI) bernama Grok, milik perusahaan xAl. Dari laporan terkini, diungkapkan bahwa Grok berhasil menghasilkan sekitar 3 juta gambar yang mengandung unsur seksual dalam waktu hanya 11 hari. Menyedihkan, laporan tersebut juga mencantumkan bahwa sekitar 23 ribu gambar yang dihasilkan berhubungan dengan anak-anak, sebuah isu yang sangat serius dan memprihatinkan.
Menurut analisis yang dilakukan oleh Center for Countering Digital Hate (CCDH), angka mencengangkan ini berarti Grok mampu memproduksi rata-rata 190 gambar seksual setiap menit, atau satu gambar yang berkaitan dengan anak-anak setiap 41 detik selama periode observasi yang berlangsung. Penemuan mengejutkan ini digunakan sebagai dasar kritik terhadap Grok dan praktik yang diterapkannya.
Daftar Isi
Metodologi Analisis CCDH
CCDH melakukan analisisnya dengan mengambil sampel acak dari 20 ribu gambar yang diunggah di platform X antara tanggal 29 Desember 2025 hingga 9 Januari 2026. Hasil penelitian ini kemudian diekstrapolasi untuk memperkirakan total gambar yang dihasilkan Grok dalam rentang waktu tersebut, yang mencapai 4,6 juta gambar.
Dalam penelitian tersebut, CCDH mengklasifikasikan gambar seksual sebagai visual yang menampilkan orang dalam situasi atau pose seksual, penggunaan pakaian yang sangat minim atau terbuka, serta gambar yang menunjukkan representasi cairan seksual. Penting untuk dicatat bahwa dalam analisis tersebut, CCDH tidak mempertimbangkan jenis perintah atau prompt yang diberikan oleh pengguna; ini menunjukkan bahwa tidak ada diskriminasi apakah gambar yang dihasilkan berasal dari foto nyata yang telah diedit tanpa izin atau sepenuhnya diciptakan berdasarkan teks deskripsi.
Tanggapan xAl dan Kebijakan Grok
Di tengah kritik yang terus berdatangan, pada 9 Januari, xAl mengambil langkah awal dengan membatasi kemampuan Grok untuk mengedit gambar yang telah ada, namun hanya untuk pengguna yang membayar. Meski demikian, langkah ini dinilai tidak cukup efektif dalam menyelesaikan masalah yang ada dan justru membuat fitur tersebut menjadi layanan premium.
“Pembatasan ini hanya berlaku di platform X. Aplikasi Grok dalam versi mandiri masih bisa memproduksi gambar serupa dan tetap tersedia di App Store milik Apple dan Play Store milik Google. Padahal, kebijakan kedua perusahaan secara eksplisit melarang aplikasi yang menyajikan konten sejenis,” demikian diungkapkan dalam laporan CCDH yang dikutip dari laman Engadget, Ahad (25/1/2026).
Respons dari Apple dan Google
Saat ini, perusahaan teknologi besar seperti Apple yang dipimpin oleh Tim Cook dan Google yang dipimpin oleh Sundar Pichai belum mengambil langkah untuk menghapus aplikasi Grok dari toko aplikasi mereka. Ini berbeda dengan perlakuan terhadap aplikasi lain yang dianggap melanggar kebijakan. Meskipun 28 kelompok perempuan dan organisasi advokasi telah melayangkan surat terbuka yang mendesak tindakan dari kedua perusahaan tersebut, hingga kini tidak ada tindakan signifikan yang diambil.
Kasus Figur Publik dan Pengaruh Grok terhadap Anak-anak
Laporan CCDH juga mengindikasikan bahwa beberapa figur publik menjadi sasaran dari gambar-gambar yang dihasilkan oleh Grok. Beberapa di antaranya adalah Ebba Busch, Wakil Perdana Menteri Swedia, dan selebritas ternama seperti Selena Gomez, Taylor Swift, Billie Eilish, dan Ariana Grande. Menyedihkan, CCDH bahkan menemukan gambar yang melibatkan anak-anak, termasuk pengeditan foto selfie seorang anak yang diproses menjadi gambar yang tidak pantas.
Kontroversi ini tidak hanya menarik perhatian publik tetapi juga memicu perdebatan mengenai etika penggunaan teknologi AI dan tanggung jawab perusahaan dalam mengelola dan menyaring konten yang dihasilkan. Ini menjadi pelajaran berharga bagi pelaku industri teknologi untuk mengedepankan tanggung jawab sosial mereka.
Apple Technos Berita Apple Terbaru, Rumor & Update Resmi