\n
nasa siap luncurkan misi berawak pertama ke bulan dalam 50 tahun pada maret index
nasa siap luncurkan misi berawak pertama ke bulan dalam 50 tahun pada maret index

NASA Siap Luncurkan Misi Berawak Pertama ke Bulan dalam 50 Tahun pada Maret

Era Baru Penjelajahan Bulan Dimulai

Setelah lebih dari lima dekade sejak jejak kaki manusia terakhir menginjak permukaan bulan, NASA bersiap untuk membuka lembaran baru dalam sejarah penjelajahan antariksa. Misi Artemis II, yang ambisius dan sarat sejarah, kini menargetkan peluncuran pada bulan Maret. Misi ini bukan sekadar penerbangan rutin, melainkan penanda kembalinya manusia ke orbit bulan untuk pertama kalinya sejak misi Apollo 17 pada tahun 1972. Meski target peluncuran sudah ditetapkan, para pejabat badan antariksa tersebut mengingatkan bahwa persiapan yang intensif masih menyisakan potensi penundaan, sebuah pengingat akan kompleksitas luar biasa dalam mengirim manusia ke luar angkasa.
Artemis II merupakan langkah krusial dalam program Artemis yang lebih luas, sebuah inisiatif NASA untuk mengembalikan manusia ke Bulan secara berkelanjutan, membangun kehadiran jangka panjang, dan mempersiapkan lompatan berikutnya menuju Mars. Misi ini akan membawa empat astronot mengelilingi Bulan, menguji coba sistem penting, dan mempersiapkan jalan bagi pendaratan berawak di masa depan. Antusiasme global menyambut kembali era eksplorasi bulan yang didorong oleh inovasi dan kerja sama internasional, menjadikan Artemis II sorotan utama bagi para pecinta antariksa di seluruh dunia.

Artemis II: Mengulang Sejarah, Melampaui Batas

Misi Artemis II dirancang sebagai perjalanan 10 hari yang akan membawa awak mengorbit Bumi sebelum menempuh jalur angka delapan di sekitar Bulan. Perjalanan ini diproyeksikan akan membawa astronot lebih jauh dari Bumi dibandingkan manusia mana pun sebelumnya, berpotensi melampaui rekor yang saat ini dipegang oleh misi Apollo 13. Pesawat ruang angkasa yang digunakan adalah kapsul Orion yang akan dipasangkan dengan roket raksasa Space Launch System (SLS) milik NASA. Kombinasi ini merepresentasikan teknologi mutakhir yang dirancang untuk perjalanan luar angkasa dalam, jauh melampaui Stasiun Antariksa Internasional (ISS).
Berbeda dengan misi Apollo yang berfokus pada pendaratan di permukaan, Artemis II akan menjadi penerbangan lintas bulan berawak pertama dari roket SLS dan kapsul Orion. Juru bicara NASA telah mengonfirmasi bahwa pesawat ruang angkasa tersebut tidak dirancang untuk operasi permukaan. Fokus utama misi ini adalah menguji coba sistem pendukung kehidupan Orion dalam lingkungan antariksa yang dalam, memvalidasi kinerja pesawat ruang angkasa, dan memberikan pengalaman berharga bagi kru sebelum misi pendaratan yang lebih kompleks.

Persiapan Megah: Dari Uji Coba Basah hingga Kesiapan Kru

Kesiapan untuk peluncuran Artemis II telah melalui serangkaian uji coba yang ketat, puncaknya adalah “wet dress rehearsal” atau latihan basah ekstensif. Latihan ini melibatkan pengisian bahan bakar roket bulan raksasa SLS dengan lebih dari 700.000 galon propelan cair dan simulasi peluncuran penuh. Ini adalah tonggak penting yang memastikan semua sistem berfungsi sebagaimana mestinya di bawah kondisi tekanan nyata. Administrator NASA, Jared Isaacman, menyatakan pada Jumat, 20 Februari 2026, bahwa tim peluncuran telah membuat kemajuan besar. Uji coba kedua, yang diselesaikan tanpa kebocoran hidrogen signifikan pada Kamis, 19 Februari 2026, menandai sukses besar setelah uji coba pertama terganggu oleh masalah kebocoran.
Dalam uji coba tersebut, para insinyur tidak hanya memuat propelan dalam jumlah masif, tetapi juga mengirim awak penutup ke landasan peluncuran untuk mendemonstrasikan penutupan pintu pesawat ruang angkasa Orion—sebuah prosedur vital untuk keselamatan kru. Dua kali penghitungan akhir, fase terakhir dari hitung mundur peluncuran, juga berhasil diselesaikan. Hal yang tak kalah penting, awak Artemis II turut mengamati sebagian dari uji coba tersebut langsung dari Pusat Kontrol Peluncuran di NASA Kennedy, memberikan mereka pemahaman langsung tentang proses yang akan mereka alami. Keberhasilan latihan basah ini menjadi sebuah “langkah besar menuju kembalinya Amerika ke lingkungan Bulan,” seperti yang diungkapkan Isaacman.

Para Pionir Abad ke-21: Kru Artemis II

Misi Artemis II akan diawaki oleh empat astronot pemberani, tiga dari NASA dan satu dari Badan Antariksa Kanada (CSA), menandai kolaborasi internasional yang signifikan. Mereka adalah Reid Wiseman sebagai Komandan Misi, Victor Glover sebagai Pilot, dan Christina Koch sebagai Spesialis Misi dari NASA, serta Jeremy Hansen sebagai Spesialis Misi dari CSA. Keempat individu ini adalah representasi terbaik dari semangat penjelajahan manusia, membawa serta keahlian dan pengalaman yang beragam untuk memastikan kesuksesan misi.
Sebagai penerbangan berawak pertama ke Bulan dalam lebih dari setengah abad, perjalanan ini bukan hanya tentang pencapaian teknologi, tetapi juga tentang inspirasi. Mereka akan menjadi mata dan telinga umat manusia saat mereka melintasi sisi terjauh Bulan, sebuah pemandangan yang belum pernah disaksikan langsung oleh manusia sejak awal 1970-an. Pengalaman dan data yang mereka kumpulkan akan sangat berharga bagi misi-misi Artemis berikutnya, terutama Artemis III yang menargetkan pendaratan manusia kembali di permukaan bulan.

Visi Lebih Jauh: Dari Bulan ke Mars

Artemis II adalah jembatan menuju misi yang lebih besar dan lebih ambisius. Setelah misi lintas bulan berawak ini, perhatian akan beralih ke Artemis III, yang akan menjadi pendaratan berawak pertama di Bulan sejak Apollo 17. Misi ini saat ini direncanakan paling cepat pertengahan 2027, meskipun beberapa ahli memperkirakan bisa mundur ke tahun 2028. Pendaratan Artemis III akan membuka jalan bagi pembangunan infrastruktur permanen di Bulan, seperti Gateway (stasiun luar angkasa yang mengorbit Bulan) dan basis bulan di permukaan.
Tujuan utama NASA dalam program Artemis adalah menggunakan Bulan sebagai ‘batu loncatan’ untuk mempersiapkan misi di masa depan ke Mars. Lingkungan bulan yang keras namun relatif dekat menawarkan kesempatan unik untuk menguji teknologi, prosedur, dan sistem pendukung kehidupan yang akan diperlukan untuk perjalanan panjang dan menantang ke Planet Merah. Dengan menguasai kemampuan hidup dan bekerja di Bulan, umat manusia akan selangkah lebih dekat untuk mencapai impian penjelajahan antarbintang.

Tantangan dan Harapan di Tengah Kompetisi Global

Meskipun NASA terus bergerak maju dengan program Artemis-nya, lanskap penjelajahan antariksa global semakin kompetitif. Cina, misalnya, terus maju dengan upaya saingannya, menargetkan paling lambat tahun 2030 untuk misi berawak pertamanya ke Bulan. Perlombaan antariksa yang baru ini mendorong inovasi dan kolaborasi, tetapi juga menyoroti pentingnya kepemimpinan dalam eksplorasi. Amerika Serikat, melalui NASA, berharap dapat mempertahankan posisinya sebagai pionir dalam penjelajahan luar angkasa, tidak hanya untuk pencapaian ilmiah tetapi juga untuk inspirasi generasi mendatang.
Misi Artemis II bukan hanya tentang roket dan astronot; ini tentang tekad manusia untuk melampaui batas, keingintahuan abadi untuk memahami alam semesta, dan kemampuan untuk mewujudkan impian yang paling fantastis. Dengan setiap peluncuran, setiap uji coba, dan setiap langkah di permukaan selestial, kita menulis babak baru dalam kisah penjelajahan manusia. Maret ini, mata dunia akan kembali tertuju pada Cape Canaveral, menanti momen bersejarah ketika Artemis II memulai perjalanannya, membawa umat manusia kembali ke pelukan Bulan.

About applegeekz

Check Also

batu dari era romawi bikin ilmuwan bingung bahkan ai pun ikutan pusing index

Batu dari Era Romawi Bikin Ilmuwan Bingung Bahkan AI pun Ikutan Pusing

ATHENA – Selama bertahun-tahun, sebuah artefak batu putih halus dari era Romawi yang ditemukan di …