\n
masalah roket misi berawak nasa ke bulan kembali ditunda index
masalah roket misi berawak nasa ke bulan kembali ditunda index

Masalah Roket, Misi Berawak NASA ke Bulan Kembali Ditunda

CAPE CANAVERAL – Mimpi umat manusia untuk kembali mengirim astronot mengelilingi Bulan, yang akan diwujudkan melalui misi Artemis II NASA, kembali harus menghadapi kenyataan pahit. Badan antariksa Amerika Serikat tersebut mengumumkan penundaan penerbangan krusial ini setelah serangkaian kendala teknis terbaru menimpa roket Space Launch System (SLS) mereka. Penundaan ini menjadi kemunduran signifikan dalam upaya NASA untuk mengembalikan manusia ke Bulan, sebuah ambisi yang belum pernah terwujud selama lebih dari setengah abad.

Sebelumnya, NASA telah menargetkan Maret sebagai jendela peluncuran paling awal untuk misi orbit Bulan Artemis II, yang akan menjadi penerbangan manusia pertama ke Bulan sejak program Apollo berakhir pada tahun 1972. Namun, dengan adanya masalah baru, NASA kini menunjuk April 2026 sebagai garis waktu paling awal untuk mengirim empat astronot Artemis II dalam perjalanan mengelilingi satelit alami Bumi kita. Penundaan ini sekali lagi menguji kesabaran publik dan ketahanan tim insinyur dan astronot NASA yang telah bekerja tanpa lelah.

Kendala Teknis Terbaru: Aliran Helium yang Terganggu

Masalah yang menyebabkan penundaan terbaru ini muncul pada uji coba penting tanggal 20 Februari 2026. Pejabat NASA mengungkapkan bahwa aliran helium ke tahap atas roket SLS terganggu. Aliran helium bertekanan tinggi ini merupakan komponen krusial dalam operasional roket, bertanggung jawab untuk membersihkan mesin dan memberi tekanan pada tangki bahan bakar. Tanpa aliran helium yang optimal, fungsi vital sistem propulsi roket tidak dapat dipastikan, yang berpotensi membahayakan misi dan kru.

Menariknya, masalah aliran helium ini tidak berkaitan dengan serangkaian kebocoran bahan bakar hidrogen yang sebelumnya mengganggu gladi bersih hitung mundur roket SLS di awal bulan. Kebocoran hidrogen, yang juga menyebabkan penundaan, telah berhasil ditangani, dengan uji pengisian bahan bakar kedua pada Kamis menunjukkan hampir tidak ada kebocoran, memberikan kepercayaan diri kepada para manajer untuk menargetkan peluncuran pada bulan Maret. Namun, masalah helium yang muncul kemudian menghapus optimisme tersebut.

Analisis dan Solusi: Kembali ke Hangar

Administrator NASA Jared Isaacman menjelaskan bahwa filter, katup, atau pelat penghubung yang rusak mungkin menjadi penyebab terhentinya aliran helium. Terlepas dari akar masalahnya, satu-satunya cara untuk mengakses area kritis ini dan melakukan perbaikan adalah dengan mengembalikan roket raksasa setinggi 322 kaki (98 meter) itu ke Gedung Perakitan Kendaraan (Vehicle Assembly Building – VAB) di Pusat Antariksa Kennedy untuk diperbaiki. Proses pengembalian roket ke hangar ini sendiri memakan waktu yang signifikan dan secara otomatis meniadakan peluang peluncuran pada bulan Maret.

“Kami akan memulai persiapan untuk penundaan, dan ini akan mengesampingkan jendela peluncuran bulan Maret,” kata Isaacman melalui platform X. “Kesempatan NASA berikutnya adalah pada awal atau akhir April.” Ia menambahkan, “Saya mengerti bahwa orang-orang kecewa dengan perkembangan ini. Kekecewaan itu paling dirasakan oleh tim di NASA, yang telah bekerja tanpa lelah untuk mempersiapkan upaya besar ini.”

Dampak pada Jadwal dan Kru Misi

Situasi ini sangat dinamis, sebagaimana disampaikan juru bicara Cheryl Warner. Baik perbaikan dilakukan di landasan peluncuran maupun di hangar, persiapan pemindahan saja sudah meniadakan kemungkinan peluncuran pada bulan Maret. Penundaan ini juga berdampak pada para astronot Artemis II yang sudah menjalani karantina dua minggu pada Jumat malam, prosedur wajib untuk menghindari kuman sebelum misi luar angkasa.

Isaacman menekankan bahwa sistem helium roket berjalan lancar selama dua uji coba sebelumnya. Namun, “perkembangan yang tidak terduga” muncul kemudian dalam pengujian rutin, memaksa para insinyur bekerja semalaman untuk menilai situasi dan mencari solusi. Aliran helium yang terganggu terbatas pada tahap propulsi kriogenik pada tahap atas roket SLS. Tahap atas ini sangat penting untuk menempatkan kapsul awak Orion ke orbit ketinggian tinggi yang tepat di sekitar Bumi untuk pemeriksaan setelah lepas landas. Setelah itu, kapsul tersebut seharusnya terpisah dari Orion dan berfungsi sebagai target bagi para astronot di dalam kapsul, memungkinkan mereka berlatih teknik penyambungan untuk misi Bulan di masa mendatang.

Konteks Program Artemis: Antara Ambisi dan Realita

Program Artemis adalah inisiatif ambisius NASA untuk mengembalikan manusia ke Bulan, dengan tujuan jangka panjang membangun kehadiran berkelanjutan dan mempersiapkan misi berawak ke Mars. Ini adalah kelanjutan dari semangat eksplorasi program Apollo yang berhasil mendaratkan 12 astronot di Bulan antara tahun 1969 hingga 1972. Selama program Apollo, 24 astronot terbang ke Bulan dari tahun 1968 hingga 1972, sebuah warisan yang ingin dilanjutkan oleh Artemis.

Namun, perjalanan untuk kembali ke Bulan terbukti jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan. Program Artemis yang baru sejauh ini baru menyelesaikan satu penerbangan, yakni misi mengorbit Bulan tanpa awak Artemis I pada tahun 2022. Penerbangan uji pertama itu juga dilanda kebocoran bahan bakar hidrogen sebelum lepas landas, serta masalah helium yang mirip dengan yang muncul pada penundaan Artemis II saat ini. Ini menyoroti kompleksitas tak terhindarkan dalam mengembangkan teknologi roket kelas berat untuk penerbangan luar angkasa berawak.

Pandangan ke Depan: Perjalanan Panjang Menuju Bulan

Penundaan Artemis II ini menegaskan bahwa eksplorasi luar angkasa, terutama dengan awak manusia, adalah upaya yang sarat tantangan dan membutuhkan tingkat kehati-hatian tertinggi. Setiap detail teknis harus berfungsi sempurna untuk memastikan keselamatan astronot dan keberhasilan misi. Meskipun pendaratan pertama di Bulan dengan awak di bawah program Artemis masih setidaknya beberapa tahun lagi, penundaan Artemis II adalah pengingat bahwa setiap langkah maju dalam eksplorasi antariksa adalah hasil dari ketekunan, inovasi, dan kesiapan untuk menghadapi kemunduran tak terduga. NASA berkomitmen untuk menyelesaikan masalah ini dan terus bergerak maju dalam perjalanannya untuk menaklukkan kembali Bulan dan seterusnya.

About applegeekz

Check Also

penelitian temukan fakta penerbangan ke luar angkasa mengubah posisi otak index

Penelitian Temukan Fakta Penerbangan ke Luar Angkasa Mengubah Posisi Otak

Perjalanan Luar Angkasa dan Misteri Fisiologi Otak Penjelajahan antariksa, sebuah prestasi monumental bagi umat manusia, …