Aceh, sebuah provinsi di ujung barat Indonesia, seringkali diuji oleh beragam bencana alam, salah satunya adalah banjir bandang. Ketika air surut dan menyisakan lumpur tebal serta puing-puing, semangat gotong royong dan kemanusiaan warga Aceh selalu terpancar. Kali ini, sorotan tertuju pada aksi luar biasa sekelompok mahasiswa dari Universitas Jabal Ghafur (Unigha) Sigli yang bergerak cepat untuk memulihkan kondisi pasca-banjir di Kabupaten Pidie Jaya. Mereka tidak hanya membersihkan tempat ibadah dan fasilitas umum, tetapi juga menjadikan kegiatan ini sebagai bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) pengganti, sebuah inisiatif cerdas yang patut diapresiasi.
Banjir Melanda, Jejak Lumpur Mengancam Kehidupan Masyarakat
Banjir bandang yang menerjang Pidie Jaya meninggalkan duka mendalam bagi warganya. Lumpur tebal menyelimuti rumah, jalanan, hingga fasilitas publik. Tempat-tempat ibadah, seperti mushalla yang menjadi pusat spiritual dan kebersamaan umat, tak luput dari dampak parah. Lumpur yang mengendap tidak hanya mengotori, tetapi juga merusak struktur dan menghambat aktivitas keagamaan. Saluran air dan selokan pun ikut tersumbat, meningkatkan risiko banjir susulan jika hujan kembali datang. Tantangan pembersihan pasca-bencana ini membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit, seringkali melampaui kemampuan masyarakat setempat untuk menanganinya sendiri.
Aksi Nyata Mahasiswa Unigha: Gotong Royong Tanpa Pamrih
Melihat kondisi memprihatinkan ini, sekitar 200 mahasiswa Unigha Sigli dari berbagai fakultas – mulai dari FKIP, Hukum, Teknik, Ekonomi, hingga Pertanian – tidak tinggal diam. Mereka terjun langsung ke lokasi bencana di beberapa desa di Pidie Jaya, termasuk Gampong (desa) Alue Keutapang, Kecamatan Bandar Dua. Dibagi menjadi dua tim besar, masing-masing beranggotakan sekitar 100 orang, para mahasiswa ini bahu-membahu membersihkan lumpur menggunakan sekop dan mengangkutnya dengan gerobak dorong. Aksi gotong royong ini telah berlangsung sejak 10 Desember 2023 dan menunjukkan komitmen tinggi terhadap pemulihan komunitas.
Khansa Sabila, salah seorang mahasiswa Fakultas Teknik Unigha, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata dari rasa kemanusiaan. “Kami sudah beberapa hari ini di sini, membersihkan lumpur bekas banjir kemarin,” ujarnya. Keberadaan mereka bukan hanya meringankan beban fisik warga, tetapi juga membangkitkan semangat harapan bahwa mereka tidak sendiri menghadapi musibah.
Bukan Sekadar Relawan, Ini Adalah KKN Pengganti yang Inovatif
Yang menjadikan aksi ini lebih istimewa adalah pengakuan kampus terhadap kegiatan mereka sebagai program Kuliah Kerja Nyata (KKN) pengganti. Inisiatif ini memungkinkan mahasiswa untuk mengkonversi nilai KKN mereka melalui partisipasi aktif dalam kegiatan kemanusiaan pasca-bencana. “Jadi, menjadi relawan ini juga dinilai dan pengganti KKN. Nanti kita tidak ikut KKN lagi,” kata Khansa. Ini adalah terobosan cerdas dari Unigha yang berhasil mengintegrasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, dengan respons cepat terhadap bencana.
Model KKN pengganti ini tidak hanya memberikan manfaat akademis bagi mahasiswa, tetapi juga mendorong mereka untuk lebih peka terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Mereka belajar langsung tentang kompleksitas penanganan bencana, pentingnya kolaborasi, dan kepuasan yang didapat dari membantu sesama. Hal ini sekaligus menciptakan calon-calon pemimpin dan profesional yang memiliki empati serta tanggung jawab sosial yang tinggi.
Rutinitas Pahlawan Tanpa Tanda Jasa: Dedikasi dari Pagi Hingga Sore
Dedikasi para mahasiswa ini patut diacungi jempol. Rinov Ananda Ramadhan, mahasiswa lainnya, menceritakan rutinitas harian mereka. Setiap pagi, mereka berangkat dari Sigli menggunakan sepeda motor, menempuh perjalanan sekitar satu jam menuju lokasi bencana di Pidie Jaya. Aktivitas pembersihan dimulai pukul 09.00 WIB dan berakhir pada pukul 16.00 WIB. Sepanjang hari, mereka bergelut dengan lumpur, kayu, dan kotoran lainnya untuk mengembalikan fungsi fasilitas umum, terutama mushalla dan saluran air.
Meskipun lelah, semangat mereka tetap membara. Untuk urusan logistik, khususnya makan siang, mereka tidak perlu khawatir karena mendapat bantuan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pengembangan Aktivitas Sosial Ekonomi Masyarakat Aceh (Paska). “Alhamdulillah, kalau makan, kami dibantu oleh Paska,” tutur Rinov. Dukungan dari pihak luar ini sangat krusial untuk menjaga keberlanjutan dan semangat para relawan di lapangan.
Dampak Jangka Panjang dan Harapan Masyarakat
Dampak dari aksi bersih-bersih ini sangat signifikan. Pembersihan mushalla memungkinkan masyarakat untuk kembali beribadah dengan nyaman, mengembalikan denyut spiritual di tengah cobaan. Sementara itu, pembersihan selokan dan saluran air yang tersumbat mencegah terjadinya genangan dan banjir susulan saat hujan. Khansa menekankan pentingnya pekerjaan ini, “Kami sejauh ini sudah membersihkan mushalla, selokan yang tertimbun tanah dan kayu-kayu, biar airnya mengalir, sehingga kalau hujan turun, tidak mudah terjadi banjir susulan.”
Keuchik Gampong Alue Keutapang, Kafrawi, mengungkapkan rasa terima kasihnya yang mendalam. “Kami sangat berharap bantuan segala bentuk, terutama dari teman-teman mahasiswa Jabal Ghafur yang telah mengerahkan tenaganya untuk pembersihan fasilitas umum dan mushalla,” ujarnya. Apresiasi dari masyarakat menjadi penyemangat terbesar bagi para mahasiswa ini. Rencana penggantian tim setiap dua pekan sekali juga menunjukkan komitmen Unigha untuk memberikan bantuan secara berkelanjutan, memastikan bahwa proses pemulihan berjalan optimal.
Solidaritas Kampus dan Komunitas: Model Pemulihan Bencana yang Efektif
Aksi mahasiswa Unigha ini adalah contoh nyata bagaimana kolaborasi antara institusi pendidikan dan masyarakat dapat menciptakan model pemulihan bencana yang efektif dan berkelanjutan. Lebih dari sekadar membersihkan lumpur, mereka telah menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, gotong royong, dan tanggung jawab sosial kepada generasi muda. Inisiatif KKN pengganti ini patut menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi lain di Indonesia untuk lebih proaktif dalam menghadapi tantangan sosial dan bencana alam, mengintegrasikan pembelajaran dengan pengabdian nyata.
Inspirasi dari Pidie Jaya, Harapan untuk Aceh yang Lebih Baik
Kisah inspiratif dari Pidie Jaya ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap bencana, selalu ada secercah harapan yang dibawa oleh uluran tangan sesama. Mahasiswa Unigha telah menunjukkan bahwa pemuda memiliki kekuatan besar untuk berkontribusi pada pembangunan dan pemulihan bangsa. Dengan semangat kebersamaan dan inovasi dalam pengabdian, Aceh dan seluruh Indonesia dapat terus bangkit lebih kuat menghadapi setiap ujian yang datang.
Apple Technos Berita Apple Terbaru, Rumor & Update Resmi