Jaringan seluler generasi kelima, atau 5G, telah lama digadang-gadang sebagai tulang punggung revolusi digital berikutnya. Di Indonesia, implementasi 5G terus bergulir, meskipun dengan tantangan yang tidak sedikit. Sebuah laporan independen dari OpenSignal, lembaga analisis pengalaman jaringan seluler global, pada edisi Desember 2025, kembali menyoroti dinamika dan performa layanan 5G antaroperator di Tanah Air. Temuan krusial dari laporan ini secara jelas menempatkan Telkomsel di posisi terdepan, memimpin di berbagai indikator kunci. Hasil ini bukan hanya sekadar angka, melainkan cerminan dari strategi infrastruktur dan alokasi sumber daya yang membedakan satu operator dengan yang lain.
Daftar Isi
Dominasi Telkomsel di Berbagai Metrik Kualitas 5G
Laporan Mobile Network Experience OpenSignal edisi Desember 2025 menganalisis secara komprehensif pengalaman pengguna 5G di Indonesia. Dalam berbagai kategori vital, Telkomsel secara konsisten mencatatkan nilai tertinggi. Indikator-indikator tersebut meliputi pengalaman video 5G, kecepatan unduh (download) dan unggah (upload) 5G, serta konsistensi kualitas jaringan secara keseluruhan. Ini berarti pengguna Telkomsel tidak hanya menikmati kecepatan internet yang lebih tinggi, tetapi juga pengalaman streaming video yang lebih mulus dan konektivitas yang lebih stabil dalam aktivitas sehari-hari yang membutuhkan bandwidth besar.
Tidak berhenti di situ, keunggulan Telkomsel juga terlihat jelas dalam kategori Coverage Experience dan Availability Experience 5G. Coverage Experience mengukur sejauh mana pengguna dapat menemukan dan mengakses sinyal 5G, sementara Availability Experience menunjukkan persentase waktu pengguna terhubung ke jaringan 5G. Pencapaian Telkomsel di kedua kategori ini mengindikasikan bahwa jaringan 5G mereka tidak hanya cepat, tetapi juga lebih mudah diakses dan lebih sering tersedia bagi pelanggan di area layanan. Ini adalah faktor krusial yang secara langsung memengaruhi kepuasan pengguna dan adopsi teknologi 5G yang lebih luas.
Faktor Penentu Kualitas 5G: Spektrum dan Infrastruktur Backbone
Di balik performa unggul Telkomsel, terdapat faktor-faktor teknis mendasar yang menurut para ahli menjadi penentu utama. Ian Yosef Matheus Edward, seorang dosen terkemuka dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, menjelaskan bahwa kepemilikan spektrum frekuensi yang memadai dan berkelanjutan adalah kunci esensial. “Dalam teknologi seluler, lebar dan kontinuitas spektrum menjadi kunci utama. Operator dengan spektrum yang lebih lebar dan tersusun kontinu akan lebih optimal dalam menghadirkan kecepatan dan stabilitas 5G,” ujarnya.
Spektrum frekuensi dapat diibaratkan sebagai jalan raya untuk data. Semakin lebar jalan (spektrum), semakin banyak kendaraan (data) yang bisa lewat secara bersamaan tanpa hambatan, menghasilkan kecepatan yang lebih tinggi dan kepadatan lalu lintas (pengguna) yang lebih baik. Kontinuitas spektrum berarti blok-blok frekuensi yang dimiliki operator tidak terpecah-pecah, memungkinkan penggunaan sumber daya yang lebih efisien dan implementasi teknologi canggih seperti Massive MIMO dan beamforming menjadi lebih efektif. Hal ini secara langsung berkorelasi dengan performa yang diukur oleh OpenSignal, terutama pada kecepatan unduh/unggah dan konsistensi jaringan.
Selain spektrum, Ian juga menekankan peran vital infrastruktur *backbone* yang kuat dan terintegrasi. Jaringan *backbone* adalah ‘jalan tol’ utama yang menghubungkan menara-menara BTS dengan pusat data dan jaringan global. *Backbone* yang robust, seringkali berbasis serat optik, memastikan bahwa data yang ditangkap oleh menara 5G dapat ditransfer dengan cepat dan efisien ke tujuannya. Kombinasi spektrum yang optimal dan *backbone* yang tangguh inilah yang seringkali menjadi resep keberhasilan, seperti yang tercermin dalam hasil pengukuran lembaga independen sekelas OpenSignal.
Tantangan dan Prospek Pengembangan 5G di Indonesia
Meskipun Telkomsel menunjukkan performa yang menjanjikan, penetrasi 5G di Indonesia secara keseluruhan masih menghadapi tantangan signifikan. Laporan OpenSignal mencatat bahwa penetrasi 5G di Indonesia masih berkisar di angka 10 persen, sebuah angka yang relatif terbatas jika dibandingkan dengan rata-rata di beberapa negara tetangga di Asia yang telah mencapai sekitar 50 persen. Kesenjangan ini mengindikasikan bahwa masih ada pekerjaan rumah besar bagi ekosistem 5G di Indonesia.
Ian Yosef Matheus Edward mengidentifikasi beberapa faktor utama yang menghambat adopsi 5G yang lebih cepat. Pertama, keterbatasan alokasi spektrum 5G yang tersedia menjadi kendala mendasar bagi operator untuk menggelar layanan secara optimal dan merata. Idealnya, menurut Ian, satu operator memiliki alokasi sekitar 100 MHz spektrum untuk menghadirkan layanan 5G yang benar-benar premium. Namun, dengan 50 MHz yang kontinu di pita TDD (Time Division Duplexing), layanan 5G sudah dapat berjalan dengan performa yang cukup baik. Saat ini, sebagian operator masih berupaya mengoptimalkan spektrum *existing* yang juga digunakan untuk jaringan 4G, sehingga implementasi 5G berjalan berdampingan (non-standalone) dengan jaringan generasi sebelumnya.
Faktor kedua adalah harga perangkat (smartphone) yang mendukung 5G yang belum sepenuhnya terjangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Harga yang relatif tinggi menjadi penghalang adopsi dari sisi konsumen. Ketiga, model bisnis dan *use case* 5G yang masih terus berkembang juga menjadi pertimbangan. Masyarakat masih mencari alasan kuat untuk beralih ke 5G jika *use case* yang relevan dan memberikan nilai tambah signifikan belum sepenuhnya terlihat atau tersedia secara luas, di luar sekadar kecepatan internet.
Ke depan, Ian berpandangan bahwa kebijakan pengelolaan spektrum perlu dirancang dengan visi yang lebih luas. Bukan hanya sekadar memaksimalkan penerimaan negara dari lelang spektrum, tetapi juga untuk mendorong investasi jaringan yang berkelanjutan dan pemerataan akses. “Jika spektrum dikelola dengan struktur biaya yang rasional dan diberikan kepada operator yang memiliki komitmen membangun secara luas, manfaat akhirnya akan dirasakan masyarakat melalui layanan yang lebih baik dan pertumbuhan ekonomi digital yang lebih kuat,” pungkasnya. Kebijakan yang suportif dan berorientasi jangka panjang akan menjadi kunci bagi Indonesia untuk merealisasikan potensi penuh 5G, tidak hanya bagi operator dan industri, tetapi juga untuk mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi digital secara nasional.
Kesimpulan
Laporan OpenSignal edisi Desember 2025 memberikan gambaran jelas tentang lanskap 5G di Indonesia, dengan Telkomsel memimpin dalam berbagai aspek performa. Keunggulan ini tidak terlepas dari investasi strategis dalam kepemilikan spektrum yang optimal dan infrastruktur *backbone* yang kuat. Namun, untuk mencapai penetrasi 5G yang lebih tinggi dan potensi manfaat yang lebih besar, Indonesia masih perlu mengatasi tantangan terkait ketersediaan spektrum, harga perangkat, dan pengembangan *use case*. Peran pemerintah dalam merumuskan kebijakan spektrum yang suportif dan mendorong investasi infrastruktur akan sangat krusial dalam mengakselerasi transformasi digital bangsa melalui teknologi 5G. Dengan sinergi yang tepat antara operator, regulator, dan ekosistem, masa depan 5G di Indonesia diharapkan dapat semakin cerah dan inklusif.
Apple Technos Berita Apple Terbaru, Rumor & Update Resmi