\n
perang berkecamuk harga bitcoin mengamuk tembus rp11 miliar index
perang berkecamuk harga bitcoin mengamuk tembus rp11 miliar index

Perang Berkecamuk, Harga Bitcoin Mengamuk Tembus Rp1,1 Miliar

JAKARTA – Ketika dunia dihadapkan pada ketegangan geopolitik dan konflik militer yang memanas, umumnya pasar keuangan global cenderung limbung dan investor mencari perlindungan di aset-aset tradisional yang dianggap aman. Namun, awal Maret 2026 ini menghadirkan narasi yang sama sekali berbeda, bahkan terkesan revolusioner. Di tengah dentuman rudal dan ketidakpastian yang menyelimuti Selat Hormuz, Bitcoin, aset kripto terbesar di dunia, justru menunjukkan resistensi luar biasa dan melesat tajam, menembus angka psikologis Rp1,1 miliar atau setara USD70.000 pada Senin (2/3/2026) malam. Pencapaian ini menegaskan posisinya sebagai ‘safe haven’ baru yang tak terduga.

Lonjakan harga Bitcoin ini terjadi saat konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki hari ketiga, yang secara dramatis memicu penutupan Selat Hormuz. Selat vital ini, sebagai jalur pelayaran minyak utama dunia, lumpuh dan memicu kekhawatiran akut akan krisis energi dan inflasi global. Uniknya, di saat pasar konvensional mungkin terguncang, investor justru berbondong-bondong memborong aset kripto, mengindikasikan pergeseran paradigma dalam strategi lindung nilai mereka.

“Dalam 24 jam terakhir hingga Selasa pukul 08.00 WIB, Bitcoin masih menguat 3,75 persen dan bertengger di posisi USD69.000 atau setara Rp 1.158.119.642,” jelas Panji Yudha, seorang Financial Expert Ajaib. Penguatan ini bukan hanya fenomena tunggal; ia bertindak sebagai lokomotif yang menarik gerbong-gerbong lain dalam ekosistem kripto. Total kapitalisasi pasar aset kripto dunia ikut melonjak 3,10 persen, mencapai USD2,34 triliun, dengan dominasi Bitcoin (BTC.D) yang semakin solid di level 59 persen.

Melampaui Logika Pasar Konvensional: Bitcoin Sebagai ‘Aset Suaka’ Baru?

Fenomena ‘Bitcoin mengamuk’ di tengah ‘perang berkecamuk’ ini adalah manifestasi nyata dari pencarian aset lindung nilai (safe haven) yang berkembang. Pasar keuangan konvensional biasanya akan bereaksi negatif terhadap konflik bersenjata berskala besar, mengingat potensi gangguan ekonomi, rantai pasok, dan ketidakstabilan politik. Namun, Bitcoin, dengan sifatnya yang terdesentralisasi, global, dan tidak terikat pada yurisdiksi pemerintah tunggal, semakin dipandang sebagai aset yang kebal terhadap tekanan geopolitik.

Ketidakpastian pasokan energi akibat lumpuhnya Selat Hormuz memang memicu ketakutan akan inflasi global yang parah. Pernyataan Presiden AS Donald Trump dari Gedung Putih bahwa operasi militer skala besar terus berlanjut untuk menghancurkan rudal Iran, alih-alih menenangkan, justru membuat para pemodal raksasa lari dari uang tunai dan mencari aset yang dapat mempertahankan nilai mereka. Dalam skenario ini, kelangkaan Bitcoin yang terprogram dan kemampuannya untuk beroperasi di luar kendali lembaga keuangan tradisional menjadi daya tarik utama. Investor melihatnya sebagai benteng digital terhadap devaluasi mata uang fiat dan ketidakpastian sistem perbankan tradisional di masa krisis.

Perbandingan dengan Aset Lindung Nilai Tradisional: Emas dan Perak

Untuk memahami lebih dalam tren ini, penting untuk membandingkan kinerja Bitcoin dengan aset lindung nilai tradisional. Logika ‘flight to safety’ memang terbukti saat emas (XAUT) kompak naik 1,3 persen, mencapai level USD5.300 per ons. Kenaikan emas ini mengonfirmasi bahwa investor memang mencari aset yang dianggap aman di tengah gejolak. Namun, reaksi perak (SLVON) yang justru anjlok tajam 7 persen ke level USD88 per ons, menyajikan narasi yang menarik. Ini mengindikasikan bahwa investor cenderung sangat selektif, hanya memilih aset-aset yang dianggap ‘kelas kakap’ atau memiliki likuiditas dan kepercayaan pasar yang sangat tinggi sebagai pelindung nilai mereka. Dalam konteks ini, Bitcoin tampaknya telah berhasil mengukir tempatnya di antara aset ‘kelas kakap’ tersebut, bahkan melampaui beberapa komoditas historis lainnya.

Agresi Institusional: Strategy Inc dan Perburuan Bitcoin

Fenomena pembalikan arah pasar ini tidak luput dari perhatian institusi besar. Perusahaan investasi terkemuka, Strategy Inc, memanfaatkan momentum ini dengan sangat agresif. Antara 23 Februari hingga 1 Maret 2026, mereka memborong sebanyak 3.015 koin BTC senilai kurang lebih USD204 juta. Pembelian ini dilakukan di harga rata-rata USD67.700 per koin, menunjukkan keyakinan kuat Strategy Inc terhadap potensi Bitcoin bahkan di tengah volatilitas pasar global. Akumulasi ini menambah ‘harta karun’ Strategy Inc, yang kini memiliki total 720.737 BTC dengan akumulasi biaya akuisisi mencapai USD54,77 miliar, dengan rata-rata modal USD75.985 per BTC. Investasi masif ini merupakan bukti nyata dari meningkatnya adopsi institusional terhadap Bitcoin sebagai bagian integral dari portofolio investasi strategis mereka, bukan sekadar spekulasi jangka pendek.

Efek Domino ke Pasar Altcoin: Gelombang Kenaikan dan Penurunan

Gelombang penguatan Bitcoin ini turut menjalar kuat ke koin alternatif (altcoin) selama sepekan terakhir, meskipun dengan dinamika yang bervariasi. Hyperliquid (HYPE) memimpin dengan lonjakan tajam 23,02 persen, menunjukkan potensi pertumbuhan eksplosif di sektor-sektor tertentu. Disusul oleh Solana (SOL) yang naik 10,14 persen, Ethereum (ETH) tumbuh 8,52 persen, dan BNB menguat 6,45 persen. Kenaikan altcoin-altcoin kapitalisasi besar ini menunjukkan bahwa sentimen positif Bitcoin seringkali menular ke aset kripto lain yang memiliki fundamental kuat atau narasi yang menarik.

Dalam perdagangan 24 jam terakhir, pasar juga diramaikan oleh pencetak untung tertinggi (Top Gainers) seperti Siren (SIREN) yang meroket 84 persen, Boba Network (BOBA) melesat 52,87 persen, dan AI Rig Complex (ARC) naik 28,66 persen. Namun, tidak semua aset merasakan manisnya keuntungan. Kelompok koin yang ‘boncos’ atau mengalami penurunan (Top Losers) diisi oleh Centrifuge (CFG) yang anjlok 24,60 persen, Kite (KITE) turun 17,75 persen, dan Kyber Network (KNC) yang terperosok 12,80 persen. Fluktuasi ini menggarisbawahi sifat pasar kripto yang volatil dan selektif, di mana investor cenderung memindahkan modal ke proyek yang dianggap paling kuat atau memiliki potensi pertumbuhan terbesar di tengah ketidakpastian.

Proyeksi Pasar Kripto di Tengah Ketidakpastian Global

Ke depannya, arah angin tampaknya masih berembus kencang bagi aset digital. Menurut Panji Yudha, hari ini Bitcoin diprediksi akan bergerak stabil di rentang USD69.000 hingga USD71.000, menunjukkan konsolidasi setelah lonjakan tajam. Sementara itu, Ethereum berpotensi menguat di kisaran USD2.000 hingga USD2.200, mengindikasikan potensi pertumbuhan di sektor smart contract dan DeFi yang mendasarinya. Di tengah dentuman perang, gejolak ekonomi, dan pergeseran paradigma investasi global, pasar kripto, khususnya Bitcoin, tampaknya menemukan panggung kemenangannya sendiri. Ini bukan hanya tentang kenaikan harga, tetapi juga tentang pengukuhan peran aset digital sebagai instrumen keuangan yang relevan dan tangguh di era ketidakpastian yang terus berkembang.

About applegeekz

Check Also

eu reveals apple made a tiny acquisition last year index

Uni Eropa Ungkap Apple Lakukan Akuisisi Kecil Tahun Lalu

Pada akhir tahun 2025, sebuah transaksi yang relatif ‘kecil’ namun berpotensi sangat signifikan terjadi di …