\n
12 juta anak jadi korban deepfake seksual dalam setahun index
12 juta anak jadi korban deepfake seksual dalam setahun index

1,2 Juta Anak Jadi Korban Deepfake Seksual dalam Setahun

JAKARTA — Inovasi dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) telah membawa banyak kemudahan dan peluang di berbagai bidang, namun di balik itu semua tersimpan ancaman berbahaya yang menimpa anak-anak di seluruh dunia. UNICEF baru-baru ini mengeluarkan peringatan yang serius mengenai meningkatnya penyalahgunaan teknologi deepfake untuk mengeksploitasi anak-anak.

Dahulu, tindakan predator seksual sering kali membutuhkan interaksi langsung antara pelaku dan korban, atau memanfaatkan materi fisik. Namun, kemajuan teknologi saat ini memungkinkan siapa saja untuk menciptakan konten berbahaya dengan mudah, hanya dengan menggunakan beberapa foto dari akun media sosial anak-anak. Yang lebih memprihatinkan, undang-undang di berbagai negara masih dirasa belum cukup kuat untuk menangani fenomena ini.

Dampak Nyata dari Penyalahgunaan Deepfake

UNICEF menegaskan bahwa, “Dampak dari penyalahgunaan teknologi deepfake adalah nyata dan sangat mendesak. Anak-anak tidak bisa menunggu hukum untuk mengejar ketertinggalan,” demikian pernyataan yang disampaikan melalui laman resmi mereka pada Sabtu, 7 Februari 2026. Situasi ini mencerminkan betapa urgent-nya kondisi yang dihadapi oleh anak-anak saat ini.

Temuan Studi Mengenai Korban Deepfake

Awal tahun ini, UNICEF bersama Interpol dan jaringan global ECPAT melakukan sebuah studi menyeluruh yang melibatkan 11 negara. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa setidaknya 1,2 juta anak melaporkan bahwa gambar mereka telah dimanipulasi menjadi konten seksual dalam bentuk deepfake selama satu tahun terakhir. Angka ini memberikan gambaran betapa serius dan mendesaknya isu ini.

Variasi Konten Deepfake yang Mengkhawatirkan

Menurut penjelasan dari UNICEF, teknik deepfake termasuk dalam kategori gambar, video, atau audio yang dihasilkan dengan memanfaatkan teknologi AI. Konten-konten ini semakin banyak digunakan untuk menciptakan materi eksploitasi seksual anak. Salah satu modus operandi yang sangat mengkhawatirkan adalah nudifikasi, yaitu penghapusan atau pengubahan pakaian dari foto anak yang menghasilkan gambar yang menampilkan tubuh telanjang atau berkonotasi seksual.

UNICEF juga menyoroti bahwa ketika identitas atau gambar anak digunakan untuk tujuan-tujuan ini, maka mereka secara langsung menjadi korban, meskipun tidak ada individu yang dapat diidentifikasi secara langsung. Konten seksual berbasis AI ini tidak hanya menciptakan perilaku eksploitasi yang dinormalisasi, tetapi juga meningkatkan permintaan akan materi yang abusif. Dengan demikian, hal ini menyulitkan aparat penegak hukum dalam mencari cara untuk melindungi anak-anak yang sangat membutuhkan bantuan. Situasi ini berkontribusi pada penciptaan budaya yang mendukung legitimasi terhadap eksploitasi seksual, yang semakin memperburuk kondisi anak-anak di masyarakat kita.

Urgensi Melindungi Anak dari Ancaman Digital

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, menjaga keamanan dan privasi anak-anak dari ancaman digital menjadi prioritas utama. Pengetahuan yang lebih baik bagi orang tua dan masyarakat umum tentang bagaimana teknologi dapat disalahgunakan adalah langkah pertama yang esensial. Selanjutnya, ada kebutuhan mendasar untuk memperkuat kerangka hukum agar dapat memberikan perlindungan yang efektif terhadap anak-anak dari risiko pencurian identitas dan eksploitasi seksual yang semakin meningkat.

About applegeekz

Check Also

tim cook teases plans for apples upcoming 50th anniversary index

Tim Cook Singgung Rencana untuk Ulang Tahun ke-50 Apple yang Akan Datang

Rangkaian Perayaan 50 Tahun Apple Tahun 2026 akan menjadi tahun yang istimewa bagi Apple, karena …