Daftar Isi
Kenaikan Harga Chip Memori dan Dampaknya
Belakangan ini, kita sering mendengar berita tentang lonjakan harga chip memori dan bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi produk-produk Apple, termasuk iPhone. Pada bulan Februari 2026, situasi ini semakin diperhatikan seiring dengan meningkatnya permintaan chip oleh perusahaan-perusahaan yang mengembangkan server AI.
Permintaan yang Meningkat
Harga chip memori jenis DRAM dan NAND telah meningkat tajam karena permintaan tinggi dari industri AI. Nvidia, sebagai salah satu pemain utama dalam bidang ini, dikabarkan telah menggeser posisi Apple sebagai pelanggan terbesar TSMC. Hal ini terjadi meskipun penjualan iPhone mencetak rekor pada kuartal lalu. Kenaikan permintaan chip untuk server AI membuat produsen seperti TSMC, Samsung, dan SK Hynix tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar, meskipun mereka beroperasi pada kapasitas penuh. Menurut laporan dari lembaga riset Taiwan, TrendForce, harga kontrak untuk DRAM dan NAND diperkirakan akan naik antara 90-95% dan 55-60% secara berturut-turut pada kuartal ini.
Pengaruh Terhadap Apple
Meskipun Apple merupakan salah satu produsen elektronik konsumen terbesar di dunia, mereka juga tidak lepas dari imbas kenaikan biaya tersebut. Pada panggilan laporan keuangan terbaru, CEO Apple, Tim Cook, menyatakan bahwa harga chip yang terus naik akan memberikan dampak “sedikit lebih besar” pada margin kotor perusahaan. Meskipun demikian, Apple memproyeksikan pendapatannya akan tumbuh antara 13% hingga 16% dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan kata lain, meskipun menghadapi tantangan, Apple tetap optimis dengan prospek pertumbuhannya.
Pilihan yang Tersedia untuk Apple
Tim Cook juga menyatakan bahwa Apple akan mempertimbangkan berbagai opsi untuk mengatasi kenaikan harga ini jika diperlukan. Namun, dia tidak mengungkapkan rencana spesifik yang akan diambil. Saat ini, tampaknya tidak mungkin bahwa salah satu langkah yang akan diambil termasuk menaikkan harga iPhone, dan ada beberapa alasan untuk ini.
Margin Kotor yang Stabil
Pertama, Apple memperkirakan bahwa margin kotor keseluruhannya akan tetap solid, berada di angka 48% hingga 49% pada kuartal ini. Ini menunjukkan bahwa mereka masih mampu mengelola situasi ini dengan baik untuk sementara waktu. Kedua, publikasi rantai pasokan Taiwan, DigiTimes, melaporkan bahwa beberapa pemasok memperkirakan Apple akan memperketat permintaan pengurangan biaya ke depan. Masih harus dilihat apakah ini akan berpengaruh pada pemasok chip DRAM dan NAND atau jika Apple akan berusaha bernegosiasi untuk mendapatkan kesepakatan yang lebih baik dari pemasok komponen lainnya guna mengimbangi dampak tersebut.
Kebijakan Apple Terkait Harga
Secara historis, Apple sangat berhati-hati dalam meneruskan kenaikan harga kepada konsumennya. Perusahaan ini dikenal memiliki manajemen rantai pasokan yang sangat baik. Dalam konteks ini, analis rantai pasokan, Ming-Chi Kuo, baru-baru ini menyampaikan bahwa rencana Apple untuk model iPhone 18 Pro yang akan datang adalah untuk “menghindari kenaikan harga sebanyak mungkin.” Dia memperkirakan bahwa Apple akan setidaknya menjaga harga awal tetap datar, sehingga model iPhone 18 Pro diharapkan tidak akan lebih mahal daripada model iPhone 17 Pro.
Kendati ada kemungkinan kenaikan harga untuk opsi peningkatan penyimpanan yang sudah dianggap mahal, hingga saat ini Apple tampaknya berkomitmen untuk tidak menaikkan harga iPhone. Situasi ini masih terus berkembang, dan menjadi menarik untuk dipantau bagaimana perusahaan ini akan merespons tantangan yang ada di pasar. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor di atas, para pengamat industri akan terus mengikuti apakah strategi Apple dapat mempertahankan harga dan keberlanjutan pertumbuhan perusahaan di tengah tekanan biaya yang meningkat.
Apple Technos Berita Apple Terbaru, Rumor & Update Resmi