\n
bakal hancur total gunung es di antartika berubah warna jadi biru index
bakal hancur total gunung es di antartika berubah warna jadi biru index

Bakal Hancur Total, Gunung Es di Antartika Berubah Warna Jadi Biru

Biru Senja Sang Raksasa Antartika

Di tengah hamparan putih abadi Antartika, sebuah fenomena alam yang memukau sekaligus memilukan tengah berlangsung. Gunung es raksasa A-23A, yang telah mengarungi lautan selama puluhan tahun, kini menunjukkan tanda-tanda kehancuran total yang tak terhindarkan. Perubahan warnanya yang dramatis dari putih salju menjadi biru sian terang, seperti yang terekam oleh satelit Bumi, bukan sekadar pemandangan menakjubkan, melainkan sebuah pertanda akan hari-hari terakhir bagi salah satu gunung es paling legendaris yang pernah dilacak oleh ilmuwan. Transformasi warna ini mengindikasikan bahwa air lelehan telah menggenang di rongga-rongga permukaannya, sebuah proses yang secara signifikan mempercepat disintegrasinya.

Keberadaan A-23A adalah sebuah saga panjang, mulai dari kelahirannya yang megah hingga perjalanannya yang penuh rintangan di Samudra Selatan. Kini, di usianya yang telah mencapai empat dekade, gunung es ini sedang menuju ‘kuburan gunung es’nya, sebuah destinasi akhir di mana ia akan kembali menyatu dengan laut. Kisah A-23A menjadi pengingat akan dinamika alam yang luar biasa dan kerapuhan gletser di hadapan perubahan lingkungan.

Kisah Panjang Perjalanan A-23A: Dari Terjebak Hingga Melaju Bebas

Perjalanan A-23A dimulai pada tahun 1986, ketika ia terlepas dari Lapisan Es Filchner yang luas di Antartika. Setelah terpisah dari daratan es, nasibnya seolah membeku selama hampir tiga dekade. Ia terdampar di dasar Laut Weddell, menjadi ‘pulau’ es raksasa yang relatif tidak bergerak selama sekitar 30 tahun, menentang arus dan waktu. Selama periode ini, A-23A dikenal sebagai gunung es terbesar di dunia, mencakup area yang mengesankan, yang pada Januari 2025 diperkirakan mencapai 3.640 kilometer persegi – luasnya hampir seukuran negara bagian Rhode Island di AS atau lebih dari dua kali lipat luas DKI Jakarta.

Namun, ketenangan ini tidak berlangsung selamanya. Pada tahun 2023, A-23A akhirnya berhasil melepaskan diri dari dasar laut, memulai perjalanannya yang panjang dan penuh peristiwa. Perjalanannya sempat terhambat ketika ia terjebak dalam arus pusaran yang dikenal sebagai kolom Taylor selama beberapa bulan. Setelah berhasil melepaskan diri dari jeratan arus tersebut, ia melanjutkan pengembaraannya yang unik melintasi Samudra Selatan. Bahkan pada Maret 2025, gunung es ini kembali terjepit di dasar laut, namun dengan kegigihan alam, ia berhasil membebaskan diri lagi pada Juni 2025. Sejak saat itu, ukurannya mulai menyusut dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, menjadi indikasi kuat dari kehancuran yang akan datang. Pada September 2025, luasnya telah berkurang menjadi sekitar 1.700 kilometer persegi, setelah banyak bagiannya terlepas dan mencair.

Misteri Warna Biru: Bukan Es Murni, Melainkan Alarm Bahaya

Perubahan warna A-23A menjadi biru sian yang cerah telah menarik perhatian para ilmuwan. Umumnya, gunung es tampak putih salju karena adanya gelembung udara yang terperangkap di dalam es saat terbentuk. Gelembung-gelembung ini secara efisien memantulkan dan menghamburkan cahaya, membuatnya tampak putih. Ketika es menua, ia terkompresi, memaksa gelembung udara keluar dan membuat es menjadi lebih transparan, sehingga memungkinkan cahaya biru menembus lebih dalam dan terlihat oleh mata.

Namun, kasus A-23A berbeda. Para ilmuwan menegaskan bahwa gunung es berusia 40 tahun ini bukanlah ‘gunung es biru’ klasik yang terbentuk dari es tua yang sangat padat dan murni. Sebaliknya, warna biru pada A-23A adalah hasil dari proses pencairan yang cepat. Air lelehan menggenang di rongga-rongga dan retakan di permukaannya. Genangan air ini, yang menyerap panjang gelombang cahaya lainnya dan memantulkan warna biru, menciptakan ilusi visual yang dramatis sekaligus menjadi sinyal peringatan. Warna biru ini menandakan bahwa gunung es ini sedang hancur dengan cepat saat hanyut di perairan musim panas yang lebih hangat di perbatasan Samudra Selatan-Atlantik Selatan, antara Kepulauan Falkland dan Pulau Georgia Selatan.

Prediksi Kehancuran: Saat Air Meleleh Merobek Jantung Es

Kehancuran A-23A telah diprediksi selama berbulan-bulan, dengan para ilmuwan mengamati potongan-potongan es yang terlepas dengan kecepatan yang terus meningkat. Ilmuwan Bumi, Chris Shuman, yang sebelumnya bekerja di Universitas Maryland Baltimore County, mengungkapkan keyakinannya, “Saya yakin A-23A tidak akan bertahan hingga musim panas di belahan bumi selatan.” Prediksi ini didasarkan pada pengamatan bahwa air lelehan bukan hanya menggenang, tetapi juga mempercepat disintegrasi struktural gunung es tersebut.

Foto satelit juga menunjukkan efek ‘benteng-parit’ yang khas di permukaannya. Ini terjadi ketika es di tepi mencair pada garis air, menciptakan pembengkokan atau semacam dinding es yang memerangkap air lelehan. Air yang terperangkap ini tidak memiliki pilihan lain selain mengalir melalui tubuh gunung es, menciptakan tekanan yang signifikan. Para ilmuwan menduga bahwa mungkin sudah ada lubang yang terbentuk di bawah wilayah ini, di mana air lelehan segar mengalir ke laut asin, bercampur dengan serpihan es yang mengapung di sebelah gunung es, menciptakan semacam bubur es. Berat air lelehan ini menekan retakan-retakan yang lemah, memaksa mereka terbuka lebih cepat, sehingga A-23A “berada di ambang kehancuran total,” seperti yang dicatat oleh NASA.

Saat ini, bongkahan es yang dulunya sangat besar itu sedang mengarah ke wilayah yang dikenal sebagai kuburan gunung es, tidak jauh dari Pulau Georgia Selatan. Di sana, ia akan sepenuhnya mencair dan menyatu kembali ke laut, menyelesaikan siklus hidupnya yang panjang dan epik.

Peran Krusial Teknologi Satelit dalam Pemantauan

Fenomena A-23A dan perjalanannya yang panjang dan penuh peristiwa ini dapat dilacak dan didokumentasikan sedemikian rupa berkat kemajuan teknologi satelit. Satelit-satelit pengamat Bumi, seperti satelit Terra milik NASA, memainkan peran yang sangat krusial dalam memantau evolusi gunung es ini selama beberapa dekade. Dengan kemampuan pencitraan resolusi tinggi, para ilmuwan dapat mengamati perubahan ukuran, bentuk, dan bahkan warna permukaannya secara detail, memberikan data berharga untuk memahami dinamika es Antartika.

Chris Shuman menyampaikan rasa syukurnya, “Saya sangat bersyukur bahwa kita memiliki sumber daya satelit yang memungkinkan kita untuk melacaknya dan mendokumentasikan evolusinya dengan sangat cermat.” Data dari satelit tidak hanya memberikan informasi real-time tentang status A-23A tetapi juga berkontribusi pada pemahaman yang lebih luas tentang dampak perubahan iklim global terhadap lapisan es kutub dan sirkulasi laut. Observasi jangka panjang ini sangat penting untuk model prediktif masa depan dan upaya mitigasi.

Masa Depan A-23A dan Implikasinya

Meskipun A-23A akan segera lenyap, kisahnya tetap menjadi pelajaran berharga. Jalur perjalanannya yang panjang, dari terjebak selama puluhan tahun hingga akhirnya berlayar dan mencair dengan cepat, membuatnya menjadi gunung es yang unik dalam catatan ilmiah. Kehancurannya adalah bagian dari siklus alami, namun kecepatan dan karakteristik disintegrasinya memberikan wawasan penting bagi para ilmuwan yang mempelajari ekosistem kutub dan perubahan iklim.

Gunung es Antartika lainnya mungkin menghadapi nasib yang serupa, tetapi perjalanan A-23A yang “sangat panjang dan penuh peristiwa” menjadikannya subjek studi yang luar biasa. Ia adalah pengingat visual yang kuat tentang skala dan kekuatan fenomena alam di planet kita, sekaligus saksi bisu dari perubahan yang sedang berlangsung di salah satu wilayah paling terpencil di Bumi. Meskipun sulit dipercaya bahwa ia tidak akan bersama kita lebih lama lagi, warisan data dan pemahaman yang ditinggalkannya akan terus hidup dalam penelitian ilmiah.

About applegeekz

Check Also

dunia bawah laut purba jadi kunci bukti peradaban kuno index

Dunia Bawah Laut Purba Jadi Kunci Bukti Peradaban Kuno

Dunia ini dipenuhi dengan cerita-cerita tentang peradaban yang hilang, kota-kota yang tenggelam, dan kerajaan-kerajaan yang …