Di tengah hamparan es tebal Danau Chagan, Kota Songyuan, Provinsi Jilin, China, kehidupan tetap berdetak meski suhu musim dingin menusuk hingga minus 20 derajat Celsius. Suara pahat es yang menghantam lapisan beku danau, berpadu dengan sorak para nelayan, menjadi irama khas yang menandai dimulainya musim penangkapan ikan. Saat jaring raksasa diangkat dan ribuan ikan melompat di antara serpihan es, momen tersebut bukan sekadar panen, melainkan perayaan tradisi ribuan tahun yang diwariskan lintas generasi.
Setiap tahun, Danau Chagan menjadi pusat perhatian melalui Festival Budaya Pariwisata Perburuan dan Penangkapan Ikan Es Danau Chagan. Festival edisi ke-24 yang dibuka pada Kamis (8/1) di Lapangan Nabo, Songyuan, kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu warisan budaya takbenda paling penting di China. Lebih dari sekadar atraksi wisata, festival ini merepresentasikan kearifan lokal, ketahanan hidup, serta harmoni antara manusia dan alam yang telah mengakar kuat di komunitas nelayan-pemburu timur laut China.
Saat matahari pagi menyinari permukaan es Danau Chagan, lokasi penangkapan ikan musim dingin mulai dipenuhi aktivitas. Bendera-bendera kuning berkibar di tengah angin dingin, menandai proses kerja yang tertata rapi. Para nelayan dengan pakaian tebal bergerak serempak, mengikuti arahan pemimpin penangkapan ikan yang disebut yubatou. Setiap gerakan mencerminkan kerja sama dan pengalaman yang telah diasah turun-temurun.
Proses penangkapan ikan di danau beku ini merupakan perpaduan kekuatan fisik, insting, dan kearifan tradisional. Dimulai dari memecah es untuk membuat lubang, memasang tongkat penarik, hingga membentangkan jaring raksasa di bawah lapisan es setebal puluhan sentimeter, seluruh rangkaian ini menyerupai tarian ritual. Di baliknya tersimpan harapan akan hasil panen melimpah—berkah yang selama berabad-abad menopang kehidupan masyarakat setempat.
Peran sentral dalam seluruh proses ini dipegang oleh yubatou. Salah satu tokoh yang disegani adalah Bing Hailong (48), yang telah puluhan tahun berkecimpung di Danau Chagan dan empat tahun terakhir menjabat sebagai yubatou. Pengetahuannya tentang kondisi danau, cuaca, serta perilaku ikan menjadi kunci keberhasilan penangkapan.
“Ketebalan es saat ini sekitar 60 sentimeter,” ujar Bing Hailong. “Kami mulai bekerja sekitar pukul 07.30 dan mengangkat jaring sekitar pukul 12.00. Ikan yang tertangkap antara lain ikan kepala besar dan ikan perak. Tahun ini, hasil tangkapan terbanyak dalam satu kali penarikan mencapai 90.000 kilogram.” Angka tersebut mencerminkan keberhasilan panen sekaligus pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.
Menentukan lokasi kawanan ikan adalah tugas paling krusial seorang yubatou. Dengan mengamati permukaan es, mengukur kedalaman air, serta membaca arah angin, mereka memperkirakan letak “sarang ikan”. Setelah lokasi dipastikan, nelayan membuat beberapa lubang es untuk jalur masuk dan keluar jaring, lalu membentangkan jaring sepanjang ribuan meter di bawah es.
Salah satu pemandangan paling ikonik dari tradisi ini adalah penggunaan derek pemutar yang ditarik kuda. Derek menyerupai batu giling besar ini digerakkan oleh empat hingga enam ekor kuda yang berlari melingkar, perlahan menarik jaring penuh ikan dari bawah es. Perpaduan kekuatan hewan, kecerdasan manusia, dan kesabaran menciptakan sebuah tontonan yang memukau sekaligus sakral.
Kuda-kuda yang telah dilatih selama bertahun-tahun bergerak mantap seolah memahami tugasnya. Saat jaring muncul membawa ribuan ikan yang meloncat-loncat, sorak kagum pun terdengar. Bagi masyarakat setempat, proses ini bukan sekadar teknik penangkapan, melainkan ritual yang sarat makna dan penghormatan kepada danau yang dianggap suci.
Di balik kemegahan tradisi tersebut, prinsip keberlanjutan dijaga dengan ketat. Shan Junguo, nelayan senior Danau Chagan, menjelaskan bahwa mereka menggunakan jaring bermata enam inci agar hanya ikan berukuran besar yang tertangkap. Cara ini memberi kesempatan ikan muda untuk tumbuh dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Selain itu, setiap musim panas dan gugur, benih ikan ditebar kembali ke Danau Chagan. Langkah ini memastikan ketersediaan sumber daya ikan di masa depan dan menjaga keberlangsungan tradisi penangkapan ikan musim dingin. Praktik ini membuktikan bahwa tradisi kuno dapat berjalan seiring dengan prinsip pengelolaan lingkungan modern.
Danau Chagan—atau Chagan Nur dalam bahasa Mongolia, yang berarti “danau putih” atau “danau suci”—merupakan salah satu dari sepuluh danau air tawar terbesar di China. Selain keindahannya, danau ini memiliki nilai budaya dan spiritual yang mendalam bagi masyarakat setempat.
Pengakuan nasional datang pada 2008, ketika tradisi penangkapan ikan musim dingin Danau Chagan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional China. Status ini menjadi komitmen untuk melestarikan metode, nilai, dan cerita yang terkandung di dalamnya.
Pada akhirnya, tradisi penangkapan ikan musim dingin di Danau Chagan bukan sekadar aktivitas ekonomi. Ia adalah manifestasi hidup dari budaya, ketahanan manusia, dan penghormatan terhadap alam. Di setiap pahatan es dan tarikan jaring, tersimpan esensi warisan abadi yang terus menghidupkan danau suci ini serta masyarakat Songyuan yang menjaganya.
Apple Technos Berita Apple Terbaru, Rumor & Update Resmi