JAKARTA – Di era digital saat ini, privasi telah bertransformasi dari sekadar hak fundamental menjadi komoditas dagang bernilai tinggi. Ironisnya, laporan terbaru dari Kaspersky Digital Footprint Intelligence menyingkap realitas yang pahit: dokumen identitas pribadi Anda, seperti paspor dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) digital, hanya dihargai rata-rata USD15 atau sekitar Rp240.000 di pasar gelap internet atau yang dikenal sebagai *dark web*.
Angka yang memprihatinkan ini bukan hanya sekadar statistik. Ini adalah cerminan mengerikan betapa rentannya nilai privasi seseorang di mata para pelaku kejahatan siber. Mereka kini beroperasi dengan struktur dan mekanisme layaknya korporasi bisnis yang terorganisir, jauh dari citra peretas individual yang bersembunyi di balik layar. Fenomena ini terekam jelas dalam analisis lanskap ancaman siber yang dilakukan Kaspersky, mencerminkan pergeseran fokus para penyerang yang tidak lagi sekadar merusak sistem, melainkan lebih condong pada akuisisi aset digital yang dapat dimonetisasi.
Privasi Bukan Lagi Hak, Melainkan Komoditas Panas di Dark Web
Pencurian data pribadi di *dark web* telah menjadi industri yang menggiurkan. Laporan Kaspersky Digital Footprint Intelligence 2025 secara tegas menunjukkan bahwa data identitas vital seperti paspor dan KTP, yang seharusnya menjadi benteng terakhir perlindungan identitas, diperdagangkan dengan harga yang sangat rendah. Harga ini bahkan bisa disetarakan dengan biaya secangkir kopi premium di kedai kopi ternama, sebuah perbandingan yang memilukan mengingat konsekuensi jangka panjang dari pencurian identitas.
Para pelaku kejahatan siber melihat data Anda sebagai modal awal untuk berbagai skema ilegal lainnya, mulai dari pinjaman online fiktif, pembukaan rekening palsu, hingga penipuan yang lebih kompleks. Rendahnya harga identitas pribadi ini juga mengindikasikan melimpahnya pasokan data semacam ini di pasar gelap, sebuah indikator alarm tentang betapa banyak data pribadi yang telah bocor ke tangan yang salah.
Pergeseran Fokus Serangan Siber: Dari Perusakan ke Perburuan Kunci Akses
Berdasarkan data telemetri yang dihimpun, mayoritas serangan siber kini memiliki motif ekonomi yang spesifik dan terarah. Kaspersky mencatat bahwa 88,5 persen dari total kampanye *phishing* (pengelabuan) dan penipuan yang diamati bertujuan untuk mencuri kredensial atau akses masuk ke berbagai akun online. Angka ini mendominasi jauh di atas serangan yang menargetkan data statis pribadi seperti nama, alamat, dan tanggal lahir, yang hanya menyumbang porsi 9,5 persen, serta pencurian detail kartu perbankan secara langsung yang tercatat hanya 2 persen.
Logika di balik statistik ini sangatlah mengerikan. Kredensial akun—baik itu media sosial, email, maupun layanan perbankan—dianggap sebagai “kunci induk” oleh para penjahat siber. Dengan memiliki kredensial, penyerang tidak hanya mendapatkan satu data, melainkan akses penuh terhadap sejarah digital, relasi, dan potensi finansial korban yang berkelanjutan. Mereka bisa mengontrol akun, mengubah kata sandi, mengakses informasi sensitif, dan bahkan melakukan transaksi keuangan atas nama korban.
Riset Kaspersky lebih lanjut menyingkap mekanisme rantai pasok data ilegal ini. Sebagian besar halaman *phishing* yang berhasil menjebak korban akan secara otomatis mengirimkan informasi curian tersebut melalui saluran terenkripsi seperti bot Telegram, email khusus, atau panel kendali web yang dikelola penyerang. Dari titik inilah, data tersebut masuk ke dalam “gudang logistik” pasar gelap sebelum didistribusikan ke saluran penjualan kembali (*reselling*) secara ilegal. Ini menunjukkan betapa terstrukturnya ekosistem kejahatan siber yang ada saat ini.
Valuasi Manusia di Pasar Gelap Digital: Daftar Harga yang Mengejutkan
Di lorong-lorong *dark web*, data manusia tak ubahnya barang dagangan di etalase toko kelontong. Data yang dicuri jarang hanya digunakan sekali pakai. Kredensial dari berbagai kampanye serangan seringkali dikonsolidasikan menjadi satu kumpulan data raksasa (*bulk dataset*) dan dijual dengan harga paket mulai dari USD50 atau sekitar Rp800.000. Nilai jual data ini sangat bervariasi, ditentukan oleh hukum penawaran dan permintaan, serta seberapa besar potensi keuntungan finansial yang bisa diekstraksi pembeli dari data tersebut.
Kaspersky Digital Footprint Intelligence 2025 memetakan daftar harga rata-rata yang beredar di pasar ilegal tersebut:
- Akses Portal Internet Global: Kredensial untuk layanan umum seperti akun media sosial atau email dasar dihargai sangat murah, sekitar USD0,90 atau Rp14.400 per akun. Ini mencerminkan kelimpahan data jenis ini dan nilai awal yang rendah, namun bisa menjadi pintu masuk untuk serangan yang lebih serius.
- Identitas Pribadi (Paspor/ID): Dokumen vital ini diperdagangkan di kisaran USD15 atau Rp240.000. Seperti disebutkan sebelumnya, rendahnya harga ini adalah sinyal bahaya akan volume data identitas yang bocor.
- Platform Kripto: Akun yang terhubung dengan dompet digital atau aset kripto memiliki nilai jual jauh lebih tinggi, mencapai rata-rata USD105 atau Rp1.680.000. Nilai tinggi ini disebabkan oleh potensi langsung untuk mencuri aset digital yang seringkali bernilai besar dan sulit dilacak.
- Akses Perbankan Online: Ini adalah komoditas premium dan paling dicari. Akses langsung ke rekening bank dipatok dengan harga rata-rata USD350 atau Rp5.600.000. Tingginya harga ini mencerminkan potensi keuntungan finansial yang sangat besar bagi pembeli, memungkinkan mereka untuk melakukan transfer dana atau penipuan finansial berskala besar.
Harga-harga tersebut tidak bersifat statis. Para pembeli data di pasar gelap melakukan proses penyortiran dan verifikasi yang ketat. Nilai sebuah akun bisa melonjak drastis tergantung pada usia akun, jumlah saldo tersimpan, metode pembayaran yang terhubung, hingga seberapa lemah pengaturan keamanannya. Akun yang memiliki saldo besar atau fitur keamanan yang minim akan dihargai jauh lebih tinggi.
Dampak Jangka Panjang dan Peringatan Ahli
Olga Altukhova, Analis Konten Web Senior di Kaspersky, menegaskan bahwa kredensial kini mencakup hampir 90 persen dari upaya serangan siber. Setelah *login*, kata sandi, dan nomor telepon terkumpul, data ini akan diperiksa, divalidasi, dan dijual kembali. Siklus kejahatan ini bisa berlangsung bertahun-tahun setelah pencurian awal terjadi.
“Kredensial lama pun dapat memungkinkan pengambilalihan akun dan serangan tertarget terhadap individu dan organisasi,” tambah Altukhova. Ini berarti, data yang dicuri hari ini bisa menjadi amunisi mematikan untuk menargetkan eksekutif perusahaan, staf keuangan, atau administrator TI di masa depan melalui skema *social engineering* yang jauh lebih canggih dan personal. Dampak dari kebocoran data bisa berantai dan berlangsung sangat lama, merugikan tidak hanya individu tetapi juga perusahaan dan bahkan keamanan nasional.
Melindungi identitas digital Anda bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Gunakan kata sandi yang kuat dan unik untuk setiap akun, aktifkan autentikasi dua faktor (2FA) di mana pun memungkinkan, dan selalu waspada terhadap upaya *phishing*. Jangan biarkan data pribadi Anda menjadi komoditas murah di pasar gelap digital.
Apple Technos Berita Apple Terbaru, Rumor & Update Resmi