JAKARTA – Gelombang transformasi digital yang melanda Indonesia melaju dengan kecepatan tinggi, membawa serta inovasi dan efisiensi yang luar biasa bagi sektor bisnis. Namun, di balik euforia kemajuan ini, tersembunyi ancaman yang tak kalah masif: serangan siber yang kian canggih, utamanya ransomware. Menjelang tahun 2026, ekspansi sistem dan volume data perusahaan diproyeksikan akan tumbuh eksponensial. Dalam skenario ini, strategi pencadangan data (backup) yang tidak matang dan usang bukan lagi sekadar kelemahan kecil, melainkan potensi lubang hitam serius yang dapat menelan kelangsungan operasional bisnis.
Clara Hsu, Indonesia Country Manager Synology Inc., memberikan peringatan tegas mengenai fenomena ini. Menurutnya, banyak perusahaan di Indonesia masih terlena dalam asumsi bahwa “memiliki backup sudah cukup” untuk melindungi aset data vital mereka. Pandangan ini, ujarnya, adalah ilusi keamanan yang berbahaya. Tanpa sistem pemulihan data yang andal, terintegrasi, dan teruji secara berkala, keberadaan backup justru bisa menjadi bumerang, memberikan rasa aman palsu hingga insiden nyata terjadi.
“Transformasi digital di Indonesia berkembang sangat pesat, namun ketahanan data juga harus berjalan seiring. Backup saja tidak lagi cukup jika proses pemulihan data tidak bisa dijamin,” kata Clara di sela acara IndoSec Summit 2025 di Jakarta. Ia memetakan setidaknya empat indikator risiko atau ‘red flag’ krusial yang perlu diwaspadai dan segera diatasi oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia menjelang tahun 2026. Memahami dan bertindak atas ‘red flag’ ini adalah kunci untuk membangun benteng pertahanan data yang kokoh di era digital yang penuh tantangan.
Ilusi Keamanan Data: Mengapa Backup Saja Tidak Cukup?
Paradigma lama mengenai backup data sebagai satu-satunya penjamin keamanan telah usang. Di tengah lanskap ancaman siber yang terus berevolusi, di mana ransomware mampu menembus pertahanan terkuat sekalipun, fokus harus bergeser dari sekadar menyimpan salinan ke kemampuan untuk memulihkan operasi secara cepat dan efektif. Tanpa rencana pemulihan bencana (Disaster Recovery Plan) yang solid dan teruji, backup hanyalah tumpukan data yang mungkin tidak bisa diakses saat paling dibutuhkan. Keberhasilan sebuah strategi perlindungan data tidak diukur dari seberapa banyak data yang dicadangkan, melainkan seberapa cepat dan lengkap data tersebut dapat dikembalikan ke kondisi normal setelah insiden. Inilah inti dari ketahanan data: kemampuan untuk bangkit kembali.
Red Flag #1: Pencadangan Parsial, Lubang Keamanan yang Terabaikan
Indikator risiko pertama yang sering terabaikan adalah praktik pencadangan data yang tidak menyeluruh. Banyak perusahaan, terutama yang sedang bertumbuh, cenderung hanya mencadangkan sebagian data atau aplikasi tertentu yang dianggap “paling penting”. Namun, seiring dengan dinamika bisnis dan munculnya beban kerja baru—baik itu aplikasi SaaS, data dari perangkat IoT, atau proyek kolaborasi—seringkali luput dari kebijakan backup yang ada. “Data yang tidak dibackup pada dasarnya sudah berada dalam kondisi berisiko,” tegas Clara Hsu. Pendekatan parsial ini menciptakan celah keamanan yang signifikan. Ketika terjadi insiden yang membutuhkan pemulihan data, prosesnya menjadi lebih kompleks, memakan waktu lebih lama, dan berpotensi menghambat operasional bisnis secara fatal karena tidak semua data penting tersedia.
Perusahaan perlu mengadopsi strategi backup holistik yang mencakup seluruh spektrum data dan aplikasi, memastikan tidak ada satupun aset digital yang tertinggal. Ini termasuk pembaruan kebijakan backup seiring dengan penambahan sistem atau data baru, serta audit berkala untuk memastikan cakupan backup tetap relevan dan komprehensif.
Red Flag #2: Visibilitas Data Terfragmentasi, Risiko yang Tak Terlihat
Seiring pertumbuhan bisnis, volume dan lokasi penyimpanan data menjadi semakin terdistribusi. Data mungkin tersebar di server lokal, berbagai layanan cloud (public, private, hybrid), perangkat edge, atau bahkan workstation karyawan. Tanpa pemantauan terpusat dan terintegrasi, visibilitas terhadap seluruh ekosistem data menjadi sangat terfragmentasi. Kondisi ini tidak hanya menurunkan efisiensi manajemen data, tetapi juga secara signifikan meningkatkan risiko kepatuhan regulasi (seperti GDPR, POJK, atau regulasi privasi data lokal) dan tentu saja, keamanan. “Ketika sistem berjalan secara terpisah, perusahaan akan kesulitan memastikan apakah seluruh infrastrukturnya benar-benar aman,” jelas Clara. Fragmentasi ini menciptakan “blind spot” yang bisa dimanfaatkan oleh penyerang. Perlindungan data terintegrasi dengan dasbor pemantauan terpusat akan menjadi kebutuhan krusial untuk mengelola kompleksitas data di tahun-tahun mendatang, memungkinkan tim IT untuk melihat, melacak, dan melindungi semua aset digital dari satu titik kendali.
Red Flag #3: Backup Tak Terlindungi, Target Empuk Ransomware
Kesalahan fatal ketiga adalah mengabaikan keamanan dari backup itu sendiri. Anggapan bahwa “data backup sudah aman” adalah kesalahpahaman berbahaya. Clara Hsu menekankan bahwa backup yang tidak dilindungi dengan baik tetap rentan diserang ransomware, terutama jika perusahaan hanya memiliki satu salinan data atau menyimpannya di lokasi yang sama dengan data utama. “Serangan ransomware kini tidak hanya menyasar sistem utama, tetapi juga lokasi backup. Banyak perusahaan baru menyadari celah ini ketika satu-satunya salinan data bersih sudah tidak bisa digunakan,” ungkapnya. Situasi ini dapat menyebabkan kehilangan data permanen dan menghancurkan upaya pemulihan. Untuk mengatasi ini, Synology menyarankan penerapan strategi “immutable backup” (cadangan yang tidak dapat diubah), penyimpanan off-site atau offline (seperti aturan 3-2-1 backup), serta pengujian pemulihan secara berkala. Hal ini memastikan bahwa bahkan jika sistem utama dan satu salinan backup terinfeksi, masih ada salinan lain yang utuh dan dapat digunakan untuk pemulihan.
Red Flag #4: Akses Data Kritis yang Tanpa Kendali, Ancaman dari Dalam
Seiring bertambahnya jumlah karyawan, mitra, dan kolaborasi lintas tim, risiko kebocoran data internal juga meningkat drastis jika pengaturan akses tidak diperketat. Data kritis dan sensitif seringkali dapat diakses oleh individu yang sebenarnya tidak memiliki kebutuhan untuk melihatnya. Pembatasan hak akses atau prinsip “least privilege” adalah salah satu kunci utama dalam meminimalkan risiko kebocoran data, baik disengaja maupun tidak disengaja. “Tidak semua orang membutuhkan akses ke data yang bersifat kritikal,” tutur Clara. Implementasi kontrol akses berbasis peran (Role-Based Access Control/RBAC), otentikasi multi-faktor (MFA) untuk akses ke sistem vital, serta audit akses yang rutin adalah praktik terbaik yang harus diadopsi. Memantau siapa yang mengakses apa, kapan, dan dari mana akan memberikan lapisan keamanan tambahan terhadap ancaman dari dalam organisasi.
Membangun Ketahanan Data: Langkah Proaktif Menuju 2026
Menatap tahun 2026, Clara Hsu memprediksi bahwa perusahaan di Indonesia akan semakin memprioritaskan ketahanan data sebagai bagian integral dari strategi bisnis secara keseluruhan, bukan lagi sekadar isu teknis yang hanya menjadi perhatian departemen IT. Pergeseran paradigma ini krusial. “Keamanan kini tidak lagi hanya berfokus pada pencegahan serangan, tetapi pada kemampuan bisnis untuk kembali beroperasi secara normal secepat mungkin setelah terjadi insiden,” katanya.
Langkah proaktif dalam mengenali dan mengatasi berbagai indikator risiko yang telah dibahas adalah investasi strategis. Ini bukan hanya tentang menghindari kerugian finansial atau reputasi, tetapi juga tentang memastikan keberlanjutan operasional, kepatuhan regulasi, dan kepercayaan pelanggan. Dengan mengadopsi strategi backup yang komprehensif, mengintegrasikan visibilitas data, mengamankan salinan backup itu sendiri, dan memperketat kontrol akses, perusahaan Indonesia dapat membangun fondasi ketahanan data yang kuat, siap menghadapi tantangan siber di masa depan, dan terus bertransformasi di era digital dengan keyakinan penuh.
Apple Technos Berita Apple Terbaru, Rumor & Update Resmi