\n
waspada superflu h3n2 mengenal virus influenza a subtipe k gejala dan strategi pencegahan efektif index
waspada superflu h3n2 mengenal virus influenza a subtipe k gejala dan strategi pencegahan efektif index

Waspada ‘Superflu’ H3N2: Mengenal Virus Influenza A Subtipe K, Gejala, dan Strategi Pencegahan Efektif

Jakarta kembali dihadapkan pada ancaman kesehatan yang tak boleh disepelekan. Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dipicu oleh virus influenza terus meningkat, memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat dan tenaga medis. Salah satu varian yang kini menjadi sorotan utama adalah influenza A subtipe H3N2, yang seringkali dijuluki sebagai “superflu”.

Istilah ‘superflu’ sendiri bukanlah tanpa alasan. Varian ini dikenal dengan tingkat penularan yang sangat cepat, terutama di lingkungan dengan suhu dingin atau padat penduduk. Kemampuan penyebarannya yang agresif telah menarik perhatian para ahli virus di seluruh dunia, mengingat potensi dampaknya terhadap kesehatan publik.

Penyakit ini menyebar melalui percikan ludah (droplet) saat batuk atau bersin, maupun melalui kontak langsung dengan cairan pernapasan dari individu yang terinfeksi. Tingkat keparahan gejala yang ditimbulkan pun bervariasi, mulai dari ringan yang dapat sembuh sendiri hingga fatal, terutama pada kelompok rentan. “Masalahnya mungkin salah satu jadi penyebab istilah ‘superflu’ ini karena penularannya cepat, jadi satu orang itu bisa menulari 2-3 orang sekitarnya, diperkirakan varian ini mungkin bisa menulari lebih tapi belum ada penelitiannya,” terang Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam sebuah diskusi daring yang membahas “Mengenali dan Mewaspadai Superflu.”

Apa Sebenarnya ‘Superflu’ Itu? Mengurai Influenza A H3N2 Subklade K

“Superflu” merujuk pada varian baru subclade K dari virus influenza musiman A (H3N2), sebuah garis keturunan virus yang sebenarnya telah eksis selama puluhan tahun. Varian ini pertama kali diidentifikasi pada bulan Juni dan segera menjadi perhatian global karena laju penyebarannya yang fenomenal baik di belahan bumi selatan maupun utara. Hasil genome sequencing menunjukkan sekitar 200 kasus yang terkait dengan lonjakan infeksi signifikan selama musim dingin, yang biasanya berlangsung dari Oktober hingga awal tahun.

Menurut dr. Nastiti, varian H3N2 ini memiliki karakteristik unik: tingkat evolusi yang tinggi, kemampuan mutasi yang cepat, dan daya tular yang ekstrem. Sifat-sifat ini berpotensi besar memicu epidemi massal yang dapat melumpuhkan sistem kesehatan. Bayangkan lonjakan pasien rawat inap yang drastis, kebutuhan obat-obatan dan alat kesehatan yang membengkak, terutama di negara-negara dengan musim dingin yang ekstrem.

Namun, penting untuk dicatat, seperti yang ditekankan oleh Profesor Nicola Lewis dari Pusat Influenza Dunia, evolusi virus flu adalah fenomena yang konsisten dan terus-menerus terjadi. Klade genetik H3 ini, meskipun tergolong unik, merupakan bagian dari siklus alami adaptasi virus. Sistem Pengawasan dan Respons Influenza Global (GISRS) WHO secara aktif memantau pergerakan dan mutasi virus ini untuk mempersiapkan respons yang tepat.

Jejak Penyebaran dan Tantangan Prediksi

Melansir laman Gavi.org, subklade K dari ‘superflu’ ini pertama kali terdeteksi di Eropa, khususnya di Norwegia dan Inggris. Yang menarik, influenza datang 4–5 minggu lebih awal dari jadwal biasanya, sebuah anomali yang jarang terjadi sejak pandemi COVID-19. Tren serupa juga terlihat di Jepang, meskipun data terbaru menunjukkan tingkat infeksi H3N2 di sana mulai stabil dan diperkirakan akan menurun.

Meskipun kedatangan virus yang lebih awal sering kali dihubungkan dengan peningkatan daya tular, hal ini tidak selalu secara langsung mencerminkan tingkat keparahan musim flu secara keseluruhan. Sebagai contoh, di Inggris, meskipun fasilitas kesehatan sempat mengalami tekanan berat, data terkini menunjukkan adanya penurunan angka positif. Namun, Dr. Alex Allen dari UKHSA memberikan peringatan bahwa sifat virus flu sangat sulit diprediksi dan ada risiko lonjakan gelombang kedua setelah periode liburan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga protokol kesehatan guna mencegah penyebaran kembali di awal tahun.

Mengenali Gejala ‘Superflu’: Mirip Flu Biasa, Namun dengan Ancaman Lebih

Secara klinis, gejala “superflu” atau influenza A varian H3N2 subklade K sangat mirip dengan flu pada umumnya. Penderita mungkin mengalami demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot yang intens, sakit tenggorokan, batuk, pilek, hingga tubuh terasa sangat lemas. Kesamaan gejala ini menjadi tantangan tersendiri, karena dokter tidak dapat membedakan varian ‘superflu’ hanya melalui pemeriksaan fisik biasa.

Meskipun influenza dapat dideteksi melalui rapid test atau swab, identifikasi spesifik untuk varian ‘superflu’ ini memerlukan metode genome sequencing di laboratorium tingkat lanjut. Ini berarti penegakan diagnosis yang akurat membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak selalu tersedia secara luas.

Kelompok Rentan dan Faktor Risiko Penularan

Meskipun gejala ‘superflu’ tampak seperti flu biasa, potensi keparahannya sangat serius, terutama pada kelompok rentan. Individu yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain:

  • Anak balita dan lansia: Sistem imun mereka cenderung belum matang atau sudah menurun.
  • Penderita penyakit kronis (komorbid): Seperti penyakit jantung bawaan, gangguan kardiovaskular, diabetes, atau penyakit paru kronis, yang membuat tubuh lebih sulit melawan infeksi.
  • Pasien kanker atau mereka yang mengonsumsi obat penekan sistem imun (imunosupresan): Kekebalan tubuh mereka sangat lemah, sehingga rentan terhadap infeksi serius.

Selain faktor individu, penularan virus ini juga meningkat pesat di lingkungan yang padat penduduk serta pada individu dengan kebersihan diri yang buruk. Individu dengan sistem imun yang lemah, terlepas dari usia atau riwayat penyakit, juga sangat rentan terinfeksi.

Strategi Pencegahan Paling Efektif Melawan ‘Superflu’

Mengingat potensi penyebaran dan keparahan ‘superflu’, langkah pencegahan menjadi prioritas utama untuk meminimalkan risiko di masyarakat. Dr. Nastiti kembali menekankan bahwa imunisasi tahunan tetap menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko penularan, mengurangi keparahan gejala, dan mencegah komplikasi serius. Vaksin flu yang diperbarui setiap tahun dirancang untuk melindungi dari varian virus yang paling dominan.

Selain vaksinasi, masyarakat perlu mengutamakan kebiasaan hidup bersih dan sehat. Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan antara lain:

  • Rutin mencuci tangan: Gunakan sabun dan air mengalir secara teratur, terutama setelah batuk, bersin, atau menyentuh permukaan umum.
  • Gunakan masker: Kenakan masker saat sedang flu atau batuk, terutama saat berada di tempat umum atau berinteraksi dengan orang lain, untuk mencegah penyebaran droplet.
  • Jaga etika batuk dan bersin: Tutup mulut dan hidung dengan siku bagian dalam atau tisu saat batuk/bersin, lalu buang tisu segera.
  • Pola makan sehat dan teratur: Konsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh.
  • Cukup istirahat: Tidur yang cukup sangat penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh tetap optimal.
  • Hindari keramaian: Batasi kontak dengan orang banyak jika memungkinkan, terutama saat musim flu.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang ‘superflu’ dan penerapan langkah-langkah pencegahan yang disiplin, kita dapat bersama-sama melindungi diri dan komunitas dari ancaman virus influenza A H3N2 ini. Kewaspadaan dan aksi kolektif adalah kunci dalam menghadapi tantangan kesehatan global.

About applegeekz

Check Also

mosasaurus dinosaurus yang mencari mangsa di sungai dan laut index

Mosasaurus, Dinosaurus yang Mencari Mangsa di Sungai dan Laut

Selama puluhan tahun, Mosasaurus dikenal sebagai penguasa mutlak lautan purba di era dinosaurus. Dengan tubuh …